Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Secara kodrati, kita manusia tercipta dengan kelebihan dan kekurangan, jiwa dan badan, suka dan duka. Maka, ketika disadari hakikat kodrati pribadi kita, masalah bisa diatasi dan duka lara derita pun bisa jadi sahabat.
Yang sering jadi masalah, ketika kesulitan dan penderitaan, pengalaman keterbatasan diprotes serta dipersoalkan. Lalu, orang lain dipersalahkan, dan hanya benarkan diri dan layani selera pribadi. Maka, bukan solusi yang didapat, melainkan menambah persoalan hidup. Saya catat refleksi itu dalam sajak:
Membunuh Lara, Kuburkan Sengsara
Aku datangi satu per satu
Lara yang mendera jiwa ragaku
kutanyakan nama dan asal usulnya
Derita yang menikam rasa hati sanubariku
kutanyakan mengapa menyengsarakan aku
Siapakah yang menyuruh kalian
Untuk apa menyengsarakan aku
Apa yang kalian dapat dariku
Lara menjawab lirih sambil teteskan air mata
“Tidakkah engkau mengenal kami semua
kami adalah putra-putramu
yang terlahir dari nalarmu”
Derita pun tengadah dengan isak tangis
memeluk kedua kakiku
dengan hari dan sedih berbisik sendu
“Mengapa tidak engkau kenali kami
Kami semua juga putri-putri yang terlahir dari pikiranmu”
Aku tertegun dan bingung
tak terbayangkan jawaban mereka
tak kusangka gugatan mereka
Dan
Masih sempat mereka menasihati
“Semua kami lara derita
berasal dari rahim pikiranmu
bersumber dari kandungan nalarmu
Jangan persalahkan siapa pun
ketika kami ada bersamamu
Jangan menghakimi sesamamu
saat kami datang padamu
Dengarlah dan camkan
Sadari dan kembali ke dalam
Ingat pikiranmu, katamu, keputusanmu
Caramu melihat dan prinsipmu memandang kami
Pilihan nalar pribadimu itulah
yang menghadirkan kami semua
yang lahirkan kami ini
Jika engkau tidak menginginkan kehadiran kami
Bunuh kami dengan pedang pikiran positifmu
Hilangkan kami dengan senjata mantra doamu
Kuburlah kami dengan peti besi kebijaksanaanmu
karena sadari pilihan keputusanmu
karena tahu yang ditabur jemarimu
karena paham kepentingan dirimu
pada waktu dan ruang kemarin
Maka,
Engkau akan terbang bebas meraih cahaya mentari
Engkau bisa berziarah memeluk buana
Engkau mampu lintas kathulistiwa dan kumpulkan harta berlian hati sesamamu
Engkau mampu nyanyikan lagu kasih sayang
Engkau panen senyum sukacita di ladang kehidupanmu
Lalu
Engkau bahagia membawa berkat rezeki untuk dibagikan pada sesama saudara
Engkau menjadi cahaya dan berkat
karena mampu meramu air mata dan senyum tawa
dari dirimu untuk pribadimu
Jangan menghakimi orang lain”
Dengan malu dan haru
aku pulang ke pondok kesadaran diri
Duduk termenung memandang jemari tanganku
Kuusap wajahku yang pucat
Kubelai desah nafasku yang tersengal
dan kugendong desiran darahku yang terkulai
Kuhibur nalar pikiranku
Yang telah terbuka matanya melihat
Yang telah terlepas sumbatan telinganya mendengar
Yang kembali sehat kuat energinya
karena lapar pengetahuan dan dahaga kebijaksanaan tentang harkat martabat hakiki pribadi
Dan
perlahan pikiranku bangkit berdiri kakinya
untuk melangkah jejaki waktu
Melukis tarian harkat martabat
pada ruang umur yang terbentang
karena telah membunuh lara derita
karena sudah kuburkan samsara
karena terbebas mengobati pribadiku
“Akulah penentu pilihan panenanku
Lara duka derita sengsara
Atau
Senyum, ceria tawa bahagia
Di hamparan ladangย kehidupanย ini.โ
…
Foto ilustrasi: Istimewa

