Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Sejak kecil, saya ikut mengalami ritual adat budaya di kampung halaman. Semua ritual terasa sakral dan penuh makna. Ada yang masih dijalankan, ada yang semakin jarang, bahkan sirna dalam komunitas. Entah apa alasannya, mengapa demikian. Mungkin ada perubahan zaman, atau dirasakan tidak dibutuhkan lagi, baik oleh keluarga dan komunitas. Pengalaman ini pasti berbeda dalam masing-masing komunitas adat budaya di Nusantara ini, bahkan di luar tanah air kita.
Setelah melewati umur 50 tahun, selalu ada kerinduan dan ketertarikan untuk mengetahui dua hal ini. Soal asal usul tradisi ritual tersebut dan kekayaan bahasa ritual adat budaya. Dari mana diperoleh tradisi ritual dengan bahasa adat yang sangat istimewa? Apakah ada sekolahnya, atau penemu dan penciptanya, atau sumber penuntunnya?
Ketika bertanya kepada sejumlah sesepuh, jawaban yang diberikan tidak memuaskan, bahkan menimbulkan pertanyaan baru. Umumnya dijawab yakni sudah tradisi leluhur, sejak zaman nenek moyang, ikuti saja dan jangan tanya, serta kami hanya pelaksana bukan pengajar untuk menjelaskan semua itu. Maka, memang masih misteri dan membingungkan. Ini berbeda dengan ritual agama, karena ada penjelasan sejarahnya serta Alkitab dan tradisi pengetahuannya. Memang, tradisi ritual adat budaya saya berlatar tradisi lisan.
Pertanyaan refleksi saya bermula dari kekaguman atas latar belakang sejarah adat budaya komunitas. Antara lain, leluhur tidak ada tradisi sekolah atau perguruan dan semacam pusat pendidikan adat budaya formal. Lalu, zaman dahulu akses informasi sangat terbatas, karena belum ada juga transportasi untuk berinteraksi dengan dunia luar komunitas. Lalu, ketika membandingkan dengan khasanah pengetahuan literer dan tradisi agama, saya temukan khasanah bahasa ritual adat budaya pun begitu kaya makna, tidak kalah dengan tradisi agama yang literer dari budaya barat. Ritual dan bahasa adat dalam ritual komunitas adat mewariskan khasanah pengalaman rohani yang luhur, meskipun dalam tradisi lisan.
Saya sangat kagum dengan fakta tersebut. Karena tidak ada penjelasan asal-usul ritual dan bahasa ritual adat, maka saya namakan bahwa asal usul semua pengalaman rohani itu adalah “Wahyu komunal”. Soalnya adalah dalam komunitas adat budayaku, tidak ada tokoh sentral seperti nabi dan rasul dalam agama, atau tokoh ilmuwan yang menjadi penemu, atau tokoh sastra yang menjadi pengarang. Biasa dijawab dengan ungkapan “sejak leluhur, sejak zaman nenek moyang”. Yang dijumpai adalah para pemangku adat, pelaku ritual adat dan beberpa penutur syair adat budaya. Tidak ada yang mengaku sebagai pemilik atau pencipta, melainkan hanya pelaku meneruskan warisan leluhur.
Hemat saya, dalam tradisi ritual dan bahasa adat tersebut ada warisan pengalaman spiritual komunitas. Para leluhur memiliki relasi istimewa dengan alam semesta, para arwah pendahulu, alam gaib dan Sang Pemilik alam semesta. Mereka belajar dari pengalaman religius tersebut, bukan pendidikan formal, tetapi semacam Wahyu Komunal dan pendidikan alam, lalu diwariskan dalam tradisi lisan. Jika dibandingkan dengan klasifikasi ilmu modern dari budaya Barat, maka saya berkesimpulan, bahwa tradisi leluhur itu mengandung teologi, metafisika, etika, filsafat, ilmu alam, sosiologi, dan bidang ilmu lainnya. Kecemasannya bahwa kemajuan zaman membuat minat generasi muda pewaris makin berkurang, dan banyak yang terancam punah. Ada aneka alasan dan konteksย penyebab.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

