| Red-Joss.com | Yesaya menggambarkan Hamba Tuhan yang begitu tampak ‘buruk rupaNya’, bukan seperti manusia pada umumnya (Yes 52,14). Mengapa Hamba Tuhan itu memiliki wajah yang buruk? Lalu, mengapa orang justru merasa tertegun pada keburukan wajah hamba Tuhan itu?
Chairal Anwar, dari sudut pandangnya sebagai penyair melukiskan sosok Yesus dalam “ISA” (1943), yang berlumur darah, rela menderita tanpa perlawanan, justru agar manusia yang percaya kepada-Nya mampu menghidupi penderitaan itu dengan tegar.
Kesediaan Yesus untuk menderita sama sekali bukan tanda kelemahan dan kekalahan, melainkan wujud keberpihakan dan solidaritas-Nya yang utuh dan penuh bagi manusia yang menderita.
‘Penderitaan multidimensi’ acap menyergap manusia, karena kemiskinan, pembodohan, kuasa politik, ketidakadilan, dan penghisapan manusia atas manusia.
Hari ini, saat ini, di tempat kita, Yesus mengajak kita, menghadirkan ‘Diri’ untuk menderita bersama dengan manusia yang sedang bergelut dengan penderitaan oleh aneka macam sebab.
Seraya ikut merasakan kerelaan tanpa batas Kasih-Nya, tetaplah mau berbela rasa.
…
Jlitheng

