Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Dalam kehidupan di kampung, selalu ada relasi saling melengkapi karena saling membutuhkan. Ada relasi karena darah dan keluarga, lalu ada relasi sebagai satu komunitas adat budaya. Ditambah lagi relasi keagamaan dan warga dalam wilayah administrasi pemerintahan. Untuk menjaga relasi itu, salah satu hal yang sering dialami adalah tuntutan untuk kerelaan berkorban. Berkorban demi kenyaman relasi diri, serta kebaikan dan manfaat bagi sesama.
Bentuk pengorbanan yang terjadi di kampung, dimulai dari korban perasaan, tenaga, pikiran dan ide, juga sarana dan materi. Berkorban berarti mau berbagi apa yang kita miliki kepada orang lain, demi manfaat dan kebaikan bagi sesama yang membutuhkan. Nilai dan kemampuan berkorban itu diawali dari bekal di keluarga. Sumbernya adalah warisan khasanah adat budaya dan agama. Maka, setiap pribadi yang mau dan mampu berkorban adalah karena mendapat sumber pembentukan dalam keluarganya.
Zaman berkembang, kampung pun ikut berubah dan nilai berkorban pun semakin tertantang serta tergerus. Gaya hidup individualistis semakin deras masuk kampung, dan ikut mempengaruhi kondisi kehidupan keluarga. Mungkin karena semakin bertambah penduduk serta terbatasnya sumber daya alam yang tersedia. Apalagi, kebutuhan semakin banyak saat ini dalam keluarga.
Saya teringat dalam lingkungan agama Katolik, saat ini sedang ada Perayaan Tri Hari Suci, yakni Jumat Agung. Yang diperingati adalah pengorbanan Yesus, dengan wafat di salib demi menebus dosa umat manusia. Model pengorbanan yang istimewa, yakni menyerahkan jiwa raga demi orang lain. Mau berkorban meskipun tidak bersalah. Bahkan mengajarkan dan melakukan contoh tentang mengampuni musuh. Model pengorbanan ini hanya bisa dipahami dalam konteks iman.
Sementara fakta zaman terus dipublikasi tentang banyak yang dikorbankan dan menjadi korban untuk kepentingan individu dan kelompok. Maraknya kasus perdagangan orang, โtrafickingโ, yang jadi korban terbanyak adalah perempuan. Ada kasus KDRT terus terjadi karena banyak penyebab, lalu yang menjadi korban adalah perempuan dan anak. Kasus korupsi di negara, maka rakyat menjadi korban. Kasus kekerasan antar agama, yang minoritas jadi korban. Banyak masalah kriminal, yang lemah menjadi korban. Bahkan dalam komunitas agama pun ada banyak kasus kekerasan dan moralitas, sehingga ada deretan korban. Inilah tantangan modern dan zaman digital, maka setiap pribadi harus berjuang keras untuk merajutย kehidupan.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

