Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Secara kodrati, setiap anak manusia membutuhkan perhatian, kasih sayang dan cinta dari sesamanya. Dari orangtua, kakak adik, keluarga sanak saudara, tetangga, komunitas adat budaya dan agama, tetangga, sahabat kenalan dan siapa pun. Namun, dalam pengalaman hingga saat ini, tidak selalu dialami suasana ideal, di mana perhatian cinta kasih sayang didapatkan dari sesama. Manusia juga memiliki keterbatasan.
Maka, perhatian cinta kasih sayang perlu disemaikan, perlu ditabung dan ditanam, lalu dirawat, agar bisa tumbuh hijau segar, berbunga indah dan berbuah manis dalam diri setiap orang.
Banyak faktor bisa menjadi penghalang sehingga dialami terjadi kurangnya perhatian antar sesama, pudar dan sirna cinta kasih sayang antar sesama.
Lahirlah iri, dengki, dendam, permusuhan dan perang. Aneka bentuk kekerasan terjadi, radikalisme dan terorisme. Ada yang membunuh tanpa beban, bahkan menjadi tindakan biasa saja ketika menghabiskan nyawa orang lain.
Ada balada dan deretan kisah duka lara tentang perhatian cinta dan kasih sayang antar manusia. Mungkin karena manusia bertambah banyak, kebutuhan beraneka ragam dan sumber daya alam semakin kritis terbatas. Benteng kearifan adat budaya, agama dan hukum mulai rapuh diterjang zaman.
Di tengah balada cinta kasih sayang itu, ada yang berdoa dan bernyanyi, “Tuhan, Ajarilah kami bahasa cinta-Mu”.
Saya catat balada itu dalam sajak:
Bola-bola Anomali
Keanekaragaman kata
melesat dari tendangan bibir
Entah ke mana gawangnya
parade “bola anomali”
Sorak sorai penonton
mencocokkan diri
dengan bola anomali
yang berguling terus
dari gadget ke bola mata
Dan
golnya ada di pikiran serta selera
Bola-bola anomali
pentaskan tontonan lara nestapa
Manusia lapar perhatian cinta
Insan dahaga kasih sayang
Ada balada cinta kasih sayang
Bola-bola anomali
diciptakan
diperebutkan
dipertontonkan
diperdebatkan
diperdagangkan
Bola pikiran pemiliknya
Bola prinsip pemiliknya
Bola kepentingan pemiliknya
Bola-bola anomali
Terus berguling dan digoreng
Manusia semakin buas garang
Dan
Tuhan pun dijadikan bola-bola
…
Foto ilustrasi: Istimewa

