Oleh Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com | Di suatu senja hari, seorang pria sangat muda, energik, cerdas, dan terdidik sedang khusuk berdoa.
Sambil termenung di bawah rerimbunan sebatang pohon beringin, kedua belah tangannya terkatup erat di dada, mata terpejam erat, sambil terisak-isak.
“Tuhanku, berikan aku, segelas air, demi pemuas dahagaku. Berikan aku, seberkas sinar-Mu, demi penerang jalan hidupku. Berikan aku, setangkai payung, untuk meneduhi tubuh rapuh ku. Juga, berikan aku, setangkai pena, guna kurangkai sebait syair cinta buat-Mu.”
Dalam keheningan itu, Tuhan belum sempat membalasnya. Tatkala dia membukakan matanya, melepaskan katupan tangannya, dan menatap ke langit gulita; tiba-tiba, dahinya tertimpah sebutir tahi burung hantu.
Maka, serunya sambil menatap langit malam, “Tuhan, pratanda apa ini. Semua harapan yang telah kulambungkan di dalam doaku, belum terjawab. Malah, kepadaku, Kau kirimkan ‘tahi’ burung malam.”
Tatkala sang pria muda energik itu berdiri, terdengar sepoi-sepoi lembut suara, “Anakku, bukankah, Aku telah menciptakanmu dari debu tanah dan menghembuskan nafas kehidupan di atas ubun-ubun kepalamu? Bahkan, bukankah Aku pun menciptakanmu, seturut citra rupa-Ku. Apa yang masih kurang padamu?”
“Oh, terima kasih Tuhanku. Jika Kau peduli kepadaku, masih banyak yang aku butuhkan!”
“Berikan aku, nama yang tenar, pangkat serta kedudukan yang tinggi, rezeki yang melimpah, serta anugerah kuasa sepanjang hayatku.”
Dan, lewat gemuruh badai malam, terdengar pula sayup suara. “Anakku, apa pun, yang telah kau mohonkan, sudah ada di dalam dirimu!”
“Hanya, semua potensi itu, belum pernah kau kembangkan. Aku pun tahu, ternyata, kau telah dirasuki oleh gelora gairah kerakusanmu.”
Sejak saat itu, sang pria muda itu pun kian terpuruk hidupnya, karena dia merasa, bahwa Tuhan tidak sudi mengabulkan doanya.
Kemalasan serta kerakusan itu, ternyata telah membunuh gairah hidup sang manusia. Kerakusan itu telah merenggut sang manusia dari dalam dirinya di saat dia iri dan cemburu kepada sesamanya.
Saudaraku, ternyata bibit kerakusan yang bercokol di dalam sanubari sang manusia, telah menyebabkan sang manusia itu memberontak kepada Tuhan.
Kerakusan itu, ibarat jaringan kanker yang merambat perlahan di dalam tubuh sang manusia. Pelan, tapi pasti, akan direnggutnya sang manusia itu.
Tuhan, berikanlah kami hati yang senantiasa bersyukur atas segala rahmat yang telah dilimpahkan kepada kami.
…
Kediri, 5 April 2023

