Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
- Ada keputusan pengadilan yang dianggap ‘absurd.’
- Ada lukisan ‘absurd.’
- Ada teater ‘absurd.’
Red-Joss.com | Secara etimologis atau harafiah: absurd, absurditas, bermakna “kemustahilan atau tidak masuk akal.”
Di dalam dunia ilmu kefilsafatan, sang Albert Camus, filsuf Perancis, yang hidup pada pertengahan abad XX, berpandangan, bahwa ‘hidup itu, sungguh sangat tidak bermakna, hidup itu absurd.’ Baginya, Allah itu tidak ada. Allah itu mati, dalam konteks ini.
Saudaraku, Anda dan saya yang kini sedang berziarah di atas bumi ini, apakah kita juga berpandangan, bahwa hidup itu hanyalah sebuah “absurdisme?” Yang memaknakan, bahwa kehidupan ini hanyalah sebuah kesia-siaan tanpa makna?
Fakta yang terjadi di tengah kehidupan kita, memang sering membawa kita kepada pemahaman, bahwa, ya, kehidupan ini seolah-olah hanya sebabak drama tak bermakna, jika sang manusia itu sendiri justru kadang tidak mampu menegakkan suatu kebenaran.
Lahirlah pernyataan kritis, seperti, “badut keadilan,” (A. Asin Thohari (Kompas, 14/3/2023), ketika Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memutuskan ‘penundaan pemilu’ atas sengketa Partai Prima dengan KPU.
Namun, seseorang yang sungguh beriman, akan memandang setiap realitas absurd ini, justru lewat kacamata sang pengharapan. Baginya, kehidupan ini, apa dan bagaimana pun konyolnya, tetap dan senantiasa ada solusinya.
Sang Allah, Sang Sumber Kebijaksanaan, akan selalu menyertai sang manusia konyol ini.
Orang beriman, yang tidak sekadar beragama akan memandang apa pun yang terjadi lewat mata imannya. Jadi, selalu ada sikap optimistis. Bukankah, Sang Tuhan adalah jalan serta tujuan hidup ini?
Jadi, sesungguhnya, kehidupan ini, bukanlah sekadar suatu yang ‘absurditas’ tetapi justru sebuah ‘pengharapan’.
Marilah kita, terus belajar agar mampu menemukan jawaban bermakna dari balik setiap kekonyolan hidup. Dari balik setiap penderitaan dan pengorbanan hidup. Lalu, dari balik rintihan kertak gigi serta derai air mata.
“Post Nubika Lux” “Habis gelap, terbitlah Terang.”
Sang Matahari Sejati tak terkalahkan akan mampu
menghalau sang langit gulita.
Selamat memasuki hari-hari hidup yang penuh pengharapan!
“In Te Confido!”
…
Kediri, 4 April 2024

