Red-Joss.com | “Ngapain M ke rumah, Mas? Ia masih berani ke sini…” kata istri saya ketus sambil menunjuk ke arah M. Istri saya berpapasan dengan M di jalan
“Sekadar main, silaturahmi,” sahut saya enteng. Istri terus nerocos, tapi saya menanggapi hal itu dengan senyuman.
“Sudahlah! Ini hari apa lho,” kata saya mencoba mengingatkan.
“Minggu Palma. Kenapa?” tanyanya sambil mengernyitkan kening.
“Nah, itu …!” sahut saya santai. “Seharusnya kita belajar menahan diri. Tidak emosian, menghakimi…”
“Masalahnya kelakuan M begitu, memanfaatkan pertemanan…,” sanggah istri membela diri.
“Yang penting kita berusaha untuk mengingatkan dan mendoakan. Pilihan dan keputusan itu sepenuhnya ada padanya. Ya, memang Mas memberi uang ala kadarnya, setelah ia menunjukkan foto istrinya yang sedang diopname,” kata saya jujur.
“Bisa jadi itu foto lama…”
“Itu bukan urusan Mas, tapi urusan dia sendiri,” kata saya tenang. “Di Minggu Palma ini kita mengelu-elukan Yesus di Yerusalem, tapi kita lalu menyalibkan-Nya dengan iri hati, sombong, menghakimi, dan pikiran negatif lainnya. Kita mengkhianati-Nya.”
Istri mau membuka mulut, tapi urung bicara.
Saya merengkuh bahunya dengan senyum lebar, dan mententramkan hatinya.
“Semestinya Pekan Suci ini kita digodok agar makin rendah hati, taat, & setia pada kehendak Allah. Untuk mudah mengampuni dan mengasihi sesama.”
Mengampuni dan mengasihi itu tidak mudah, jika kita tidak memiliki semangat rendah hati untuk berempati, peduli, dan berbagi pada sesama dengan tulus hati.
Sesungguhnya, ketika M ke rumah siang tadi, saya menaruh curiga padanya. Tapi pikiran jahat itu segera saya buang jauh. Saya juga tidak mau menghakiminya dengan prasangka buruk lainnya. “Siapa pun dia, jika bertamu itu harus dilayani dengan baik,” itu pikiran jernih saya.
Selain silaturahmi, ternyata tujuan M yang sebenarnya adalah mau meminjam uang untuk berobat istrinya yang sedang diopname, karena sakit komplikasi.
Sebenarnya M mempunyai banyak talenta, sayang tidak digali dan diasah secara maksimal. Karena merasa hebat, ia suka meremehkan orang lain, dan pemalas.
Kini di usia tuanya itu ia baru menyadari dan menyesali diri, tapi semua telah terlambat… dan hal itu tidak ada gunanya!
Saya berdoa untuk M, semoga Yesus berkenan menjamahnya, sehingga ia sadar diri dan berubah ke arah yang baik demi masa depan keluarga.
Sekali lagi, jangan pernah kita mengingkari dan meninggalkan Yesus.
Ketika sukses atau berhasil, kita tidak boleh sombong dengan menyalibkan-Nya. Sesungguhnya sukses itu anugerah-Nya.
Ketika dihina, dicemooh, dan dikhianati oleh teman atau mitra bisnis, kita tidak boleh benci, mendendam, dan membalasnya. Yesus mengajak kita untuk mengampuni, mengasihi, dan mendoakan mereka.
“Karena mereka tidak tahu apa yang diperbuatnya.”
Dengan sungguh menghayati peristiwa Pekan Suci, kita digodok untuk jadi pribadi yang rendah hati, taat, dan setia pada kehendak Allah.
Dengan mengampuni, mendoakan, dan mengasihi sesama itu sesungguhnya makna salib Yesus menyelamatkan dunia.
Jangan berbuat dosa lagi, tapi hiduplah dalam kasih-Nya, dan bahagia.
…
Mas Redjo

