Red-Joss.com | “Pak, apakah doa orang beriman itu selalu dikabulkan Allah?”
Pertanyaan seorang sahabat, EY yang sore itu mampir ke rumah, tidak segera saya jawab. Wajahnya yang kuyu tanpa gairah itu seperti memendam banyak masalah.
Saya tersenyum untuk mencairkan suasana, lalu mengangguk.
“Pasti? Tapi mengapa doa saya belum juga dikabulkan?” gumam EY seperti ditujukan pada diri sendiri.
“Teruslah bersujud dan berserah pada Allah, karena selalu indah pada waktu-Nya, dan IA juga memberi yang terbaik untuk kita,” kata saya tersenyum penuh keoptimistisan.
EY menatapku ragu. Bisa juga kurang percaya. Sorot matanya memancarkan kerisauan di hati.
Sesungguhnya, supaya doa kita dijawab dan dikabulkan Allah, kita harus merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan-Nya. Sujud dalam kepapaan jiwa. Semoga itu meruntuhkan belas kasih-Nya.
Ketika meminta dalam doa, apakah kita sekadar memuaskan dahaga keinginan atau kebutuhan jiwa. Sesungguhnya keinginan itu tidak bertepi dan tidak pernah terpuasi.
Alangkah bijak, ketika berdoa itu kita tidak menuntut pada Allah. Tapi memohon, karena IA memahami kebutuhan dan selalu memberi kita yang terbaik.
Saya sungguh merasakan kasih-Nya nan dahsyat. Ketika didholimi orang, karena surat perjanjian beli rumah dibatalkan secara sepihak, dan saya mengikhlaskan, lalu Allah memberi rezeki yang lebih besar. Begitu pula saat saya ditipu dan dikhianati mitra bisnis, rezeki dari Allah mengucur deras.
Ketika hidup ini dijalani ikhlas hati dan penuh syukur, sesungguhnya kita membuka pintu anugerah Allah yang luar biasa.
Kenyataannya, persoalan EY ini cukup pelik, karena berkaitan dengan usaha keluarga, di mana anak tunggalnya yang bakal jadi penerusnya.
EY risau dan merasa nelangsa, karena anak tunggalnya itu ngotot untuk menjalin hubungan dengan gadis yang tidak disetujui orangtua.
Faktor ketidaksetujuannya itu, karena pihak calon besan, terutama Bapak anak gadis itu berani bicara dan meminta pada EY untuk menyerahkan usaha itu pada anak tunggalnya agar EY pensiun. Tidak hanya itu, pacar anaknya, ketika datang ke kantor bergaya seperti bos. Padahal belum menikah, dan jadi anggota keluarga. Lalu, istrinya jatuh sakit, ketika anaknya berani mengancam untuk melepas hak waris keluarga, jika hubungan itu ditentang orangtua!
Sesungguhnya, saya telah meminta pada EY untuk berpikir positif agar hati ini tidak mudah korslet, kecewa, dan terluka. EY agar berbesar jiwa untuk mengambil sisi yang positif dan baiknya.
Sikap keras anak tunggalnya itu tidak harus dikonfrontasi, ditentang, tapi ‘dielus’ dengan kasih dan didoakan agar pikiran anaknya terbuka, dan sadar diri.
Sesungguhnya, ketika berdoa dan memohon pada Allah, kita diajak untuk menjadi pribadi yang rendah hati. Tidak menuntut atau memaksa Allah, tapi untuk sujud berlutut, dan berserah ikhlas.
Sesungguhnya hidup kita diuji agar setia pada Allah.
Nafasi hidup ini dengan doa, karena Allah yang mampu mengubah hati.
Tetap percaya pada rencana Allah, karena selalu indah pada waktu-Nya.
…
Mas Redjo
…
Foto ilustrasi: Istimewa

