Red-Joss.com | Mungkin karena melihat saya masih sering melayani di lingkungan lain atau bahkan paroki yang berbeda, saya dinasehati oleh sahabatku: “Mbok sampun to mas, sudah usia 71 th. Kini waktunya untuk beristirahat, doa.” Mungkin di benaknya: berambisi banget orang ini.
Sebenarnya ambisi adalah karunia Allah sebagai pelengkap untuk menjalani hidup. Akan tetapi memang bisa menjadi masalah, ketika ambisi itu berlebihan dan tidak sebanding dengan kekuatan atau potensi yang dimiliki. Jika demikian maka orang itu akan tidak melihat lagi realita dengan jelas dan tepat.
Mata tidak lagi bisa melihat, bahwa yang ada di sekitarnya lebih punya kemampuan dan hati pun tak lagi bisa merasakan, bahwa dirinya sebenarnya tak banyak punya kemampuan, tapi menganggap yang lain tak bisa apa-apa.
Ambisi yang memuncak juga membuat nurani tak bekerja, malu juga tidak punya, bahkan harga diri pun dipijak sendiri.
Terkadang sebagai orang Katolik kita bertanya-tanya, apa benar, kalau melayani harusnya tanpa ambisi. Pertanyaan itu muncul, karena sering mengaitkan antara ambisi dengan angkuh dan kerap berpikir, bahwa rendah hati artinya tak berambisi.
Saya sendiri, setiap kali akan menjalani pelayanan di Sanberna ini, entah dalam seksi atau tugas edukasi, selalu saya dahului dengan discerment, atau penelitian batin, agar dimampukan untuk membedakan antara ambisi pribadi & kehendak Allah.
Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23)
Tetap semangat berbagi terang.
…
Jlitheng
…
Foto ilustrasi: Istimewa

