Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com | “Kebaikanmu adalah sebuah ‘bahasa’ kasih yang dapat ‘dilihat’ si buta dan ‘didengar’ si tuli.”
Konon, di sebuah kota sangat kecil, di saat seorang pensiunan kepala sekolah sedang berjalan santai, dia sempat berpapasan dengan seorang mantan muridnya yang baru saja ke luar dari lembaga permasyarakatan (LP).
“Halo, muridku yang paling hebat, apa kabarmu? Sungguh senang dan beruntung, dapat bertemu lagi denganmu!”
Beberapa tahun berselang, di saat sang mantan kepsek itu mendampingi cucunya
di sebuah taman kota, secara kebetulan, dia berpapasan lagi dengan si mantan napi itu. Sang mantan murid itu dengan ramah mendekati beliau, “Bapa, terima kasih atas kebaikan kepada saya.”
Spontan sang mantan kepsek itu terkejut dan bertanya pelan, “He, kebaikan apa, Nak!”
“Ternyata, sekeluar dari kurungan penjara selama hampir tiga tahun, Bapalah, orang pertama yang mau menyapa saya. Sejak itu, gairah hidupku pun bertumbuh kembali.”
Saudaraku, betapa dasyatnya dampak positif dari perjumpaan ini. Mungkin, terkesan sangat sepele dan serba kebetulan.
Sesungguhnya, apa yang terjadi di sini? Ini bukan sekadar sebuah memori antar murid dengan mantan kepseknya. Juga, ini pun bukan sekadar perasaan senang, karena dapat berjumpa dengan mantan murid atau mantan kepsek. Bukan!
Hal dasyat yang terjadi di sini, ialah adanya sebuah ‘pengakuanโ, sebuah ‘kejujuranโ, serta seutas tali ‘ketulusan’ dari sang mantan kepsek untuk tetap ‘menghargai dan memanusiakan’ mantan anak didiknya.
Sang mantan kepsek itu telah mengambil porsi sesuai ajaran kebenaran dan kasih. Karena dia, sang mantan kepsek itu, sungguh berhati mulia. Dia sungguh bijaksana dan terhormat. Dia pun sungguh memahami bahwa sang mantan napi ini, tentu membutuhkan enegi kasih untuk menumbuhkan kembali harga diri serta harapan yang sudah anjlok.
Karena sang mantan napi itu, sungguh sangat memahami kerasnya karakter masyarakat kita yang cenderung untuk menolak seorang mantan napi.
Saudaraku, sang mantan napi itu tetaplah seorang manusia. Dia pun seperti saya dan Anda. Karena di antara dia dan kita, toh ada faktor kesamaan. Ada kekuatan dan juga ada kelemahan.
Sesuai konteks ini, orang Latin mempunyai adagium yang sungguh menyeimbangkan, “erare human est,” bahwa kesalahan itu, sifat sang manusia.
…
Kediri, 31 Maret 2023

