Red-Joss.com | Manakala kita berbicara mengenai salib Kristus, sering kali kita mengacu pada balok-balok kayu yang digunakan sebagai instrumen kematian Yesus.
Namun kalau kita menyelam lebih dalam, ke bilik Sabda Tuhan dan membacanya dengan hati teduh, kita mulai memperoleh sudut pandang yang lebih luas, perspektif yang mencakup totalitas kisah keselamatan kita: ‘inkarnasi, wafat dan kebangkitan-Nya’, serta ‘kenaikan-Nya’ ke surga.
Salib Kristus pada intinya merupakan kesaksian akan tak terukurnya cinta Allah yang dicurahkan kepada manusia, yang mempunyai kuasa mentransformasikan hidup manusia, semuanya, setiap pribadi, termasuk kita, menuju keselamatan kekal. Maka, setiap kali mengawali peribadatan atau doa, kita menyatakan:” mari kita awali dengan membuat tanda kemenangan kita [+], dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin. [IHS: In hoq signo vinces]
Pesan inilah yang ingin kita geluti dalam masa pra-Paska ini.
Baru kemarin sore saya mendapat pesan dari teman karibku lewat WhatsApp: “Mas, apa yang harus kami lakukan dengan salib berat yang kami pikul saat ini?” Salib bagi temanku ini sedang dirasa sebagai beban berat.
Sampai pagi hari jam 03.22, saya belum mampu menjawab pertanyaannya. Saya belum mempunyai jawaban yang dayanya melampaui kata-kata teduh saja.
Jawaban saya harus dapat membantu teman karibku itu bertransformasi dari: Salib sebagai tanda hina menjadi salib sebagai tanda kemenangan.
Pertanyaannya adalah: bagaimana?
Mungkin ini jawabannya, saya dapat dari teman karibku yang lain, juga lewat WhatsApp, dua hari yang lalu: “Pak, kita harus semakin mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri,” pesannya
‘Opo meneh iki’. Ketika pagi ini saya minta terang batin dari Tuhan, saya mendapat pemahaman tentang lebih mengasihi artinya lebih berempati. Melampaui daya kata-kata teduh saja.
Maka jawaban saya seperti ini:
“Mas, tak kancani mlaku yo, sanajan aku ora iso melu manggul salib panjenengan.”
Artinya: “Walaupun saya tidak dapat ikut memikul salibmu, tetapi saya dekat dan berjalan bersama panjenengan berdua.”
Tuhan Yesus yang panjengan cintai seumur hidup itu, ada juga bersama kita, berjalan bersama kita.
“Everybody needs a little help, sometimes. No one stand alone.“
Sesulit apa pun berusahalah untuk tetap berbagi cahaya.
…
Jlitheng
…
Foto ilustrasi: Istimewa

