Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Cerita lama, bahwa di hutan belantara dan alam bebas, ada hukum rimba. Hukum saling mengalahkan, karena perlu bertahan hidup. Maka, yang lemah dan kalah dalam bertarung, akan menjadi bawahan bagi yang menang atau menjadi mangsa bagi sang pemenang.
Dalam proses hukum, dengan pengadilan bagi yang bersalah atau melawan hukum, maka ada juga semacam prinsip menang kalah. Karena prinsip demi meraih kemenangan itu, maka segala cara akan ditempuh melalui pembela-pengacara-advokat, polisi, jaksa dan hakim. Atau para politisi, preman dan uang serta senjata. Kepentingannya adalah menang dalam proses pengadilan tersebut.
Ketika masuk dalam cerita politik praktis menjelang pemilu 2024, juga ada prinsip yang sama ialah soal menang dan kalah. Para politisi berjuang dengan berbagai strategi dan cara demi meraih kemenangan, meskipun peluangnya sangat terbatas. Misalnya untuk daerah pemilihan yang mempunyai jatah 7 kursi DPRD. Lalu, dari 15 parpol ada calon 7 orang. Maka, ada sekitar 100 caleg yang bertarung memainkan seni kemungkinan, demi meraih kemenangan.
Pertarungan dengan prinsip kalah menang, mendorong setiap pihak yang bertarung untuk menggunakan segala cara demi meraih kemenangan. Memang ada aturan yang berlaku dalam masing-masing bidang kehidupan. Namun, demi meraih kemenangan itu, sudah sering terjadi, bahwa cara yang jahat, curang dan melawan aturan pun bisa dilakukan.
Benarlah yang pernah dikatakan, bahwa dalam kepentingan politik praktis, sering segala cara dilakukan demi meraih kemenangan. Terjadi pertarungan dasyat untuk saling mengalahkan antara para politisi. Di sinilah sering dipertanyakan soal peran para pemangku adat budaya, tokoh agama dan para penegak hukum. Bagaimana bisa berperan untuk mencegah kecurangan dan menegakkan peraturan, demi menjamin terlaksanya pemilu yang jujur danย adilย –ย Jurdil.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

