Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Masih soal fenomena yang sedang terjadi di kampung, mungkin juga di kota-kota sehubungan pemilu 2024. Soal rakyat sebagai pemilik suara, memiliki suara hanya satu, tapi didatangi dan diperebutkan oleh puluhan calon legislatif, baik untuk tingkat Kabupaten, Propinsi, dan Pusat. Maka, ada parade kemungkinan yang sedang terjadi.
Seorang teman yang biasa jadi MC, apalagi dalam rangka panggung politik, berkata begini. Politik adalah seni kemungkinan. Hal yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin. Hal mungkin bisa juga menjadi tidak mungkin. Fakta suara rakyat yang hanya satu, berhadapan dengan sekian puluh caleg, adalah bagian dari seni kemungkinan. Caleg berjuang membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin atau sebaliknya. Sedangkan pemilik suara, juga memainkan jurus aneka kemungkinan memilah dan memilih siapa untuk nanti diberikan suaranya pada kamar tempat pemungutan suara.
Dari pihak para caleg, ada berbagai strategi dan cara untuk merebut simpati dan keputusan para pemilik suara. Dalam sistem pemilu yang ada, para caleg sudah bertarung dalam partainya, lalu bertarung dengan caleg dari partai lain. Dan ada fakta, bahwa mereka yang sedang di kursi legislatif pun juga kembali maju sebagai caleg. Mereka sudah ada pengalaman dan jaringannya selama lima tahun menduduki kursi legislatif.
Segala cara dan model pendekatan akan dilakukan oleh masing-masing caleg dan tim sukses mereka. Sementara, dengan kemajuan zaman digital, rakyat pemilik suara pun mendapat aneka informasi dari medsos. Maka, pemahaman masyarakat pemilik suara pun sudah berubah dari keadaan pemilu yang lalu.
Karena keadaan yang demikian, maka saya sebut fenomena menjelang pemilu 2024, khusus antara pemilik suara dan para caleg, adalah “Perayaan Kemungkinan Politik”.
Perayaan, karena sering pemilu disebut sebagai pesta rakyat. Namun, yang selama ini terjadi, bahwa para caleg, ketika ke kampung maupun kota, untuk bertemu dengan calon pemilih yang berkumpul, maka tidak terhindarkan soal suguhan rokok sirih pinang dan acara makan minum. Biaya dikeluarkan oleh caleg, dan itulah ongkos politik, yang dikeluarkan demi menciptakan “kemungkinan” untuk mendapat simpati serta dukungan dari para pemilik suara.
Sekarang perayaan kemungkinan politik itu sedang berjalan, dan semakin hari mendekati pemilu akan semakin banyak perayaan kemungkinan, yang terjadi di kampung dan kota. Bagi para caleg, politik dalam rangka pemilu adalah seni kemungkinan untuk mendapatkan jabatan politik. Sedangkan untuk para pemilik suara, politik yaitu menjalani seni kemungkinan untuk menggunakan hak pilihnya. Entah akan diberikan suaranya kepada siapa dan dengan alasan apa. Semuanya adalah bagian dinamis seni kemungkinan. Termasuk kemungkinan jual beli suara, pemaksaan dan intimidasi kepada pemilik suara, dan kemungkinan terjadinya kecurangan dalam proses pemilihan dan perhitungan suara, serta kerjasama dengan oknum petugas pemilu untuk manipulasi suara.

