Red-Joss.com | Sederhana, teramat sederhana. Kita tidak harus protes, adu argumentasi, atau membela diri. Ketika etikat baik kita dikatakan sok moralis, diremehkan, dicemooh, atau pun tidak ditanggapi.
Sesungguhnya, perbuatan baik itu tidak membutuhkan pengakuan dan pembelaan diri. Karena hal-hal yang baik dan kebaikan itu milik-Nya.
Begitu pula, ketika beberapa teman menuduh saya “ben diarani”, karena unggahan saya mengenai motivasi dan inspirasi kehidupan.
Hal itu tidak menyurutkan niat saya untuk terus menulis, berbagi, dan semoga menginspirasi.
“Sok baik dan sok suci” itu predikat yang dianugerahkan mereka pada saya.
Saya sungguh bangga, karena diingatkan dengan sebutan itu, dan saya mengapresiasinya.
Sok baik, karena belum jadi pribadi yang baik, maka saya berjuang untuk jadi baik, dan makin baik lagi.
Sok suci, karena belum suci, maka saya terus belajar dan berjuang untuk meneladani hidup orang-orang suci. Semoga pikiran, hati, kehendak, dan tindakan saya mengarah untuk hidup suci.
Bagi teman yang mengapresiasi saya dengan sebutan “ben diarani”, saya ucapkan banyak terima kasih. Tapi maaf, bagi saya pribadi hidup ini tidak untuk ajang pembuktian diri. Karena sesungguhnya hidup ini harus disyukuri sebagai anugerah Allah.
Saya tidak tersinggung, karena orang yang mudah tersinggung itu bertelinga tipis. Sehingga saya harus belajar sabar dan rendah hati.
Saya tidak iri, jika mereka lebih hebat dari pada saya. Karena iri hati itu tanda tidak mampu dan meracuni jiwa sendiri. Sehingga ketimbang ‘ngiri’, lebih baik saya ‘nganan’ agar hati ini sehat.
Saya juga tidak bisa membenci dan mendendam pada siapa pun, meski dihina, disaliti, atau difitnah. Karena benci dan dendam itu milik orang yang berjiwa kerdil dan jahat. Sehingga lebih bijak, jika saya memberi maaf, ampun, dan mendoakan mereka agar saya tidak kehilangan kasih untuk menyayangi sesama.
Selalu rajin bekerja, bertekun doa, dan berserah adalah jalan hidup saya untuk kembali kepada Allah. Karena saya milik-Nya.
…
Mas Redjo.

