Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com | “Keluhanmu akan mengepul laksana uap air, ia akan melayang ke mana saja”
(anonim)
Mungkin saja, di dalam meja kehidupanmu ini, Anda mengenal beberapa sosok pribadi pengeluh. Dia sudah dikenal umum sebagai sosok pribadi yang selalu mengeluh. Mungkin saja, dia itu saudaramu, sahabat karib, atau malah Anda sendiri adalah sosok pengeluh itu.
Mengeluh dan mengesah adalah “ekspresi hati” yang didasari oleh perasaan susah, kecewa, sedih, atau pun derita berkepanjangan di dalam hidup ini.
Adalah suatu kewajaran, bahwa seorang manusia pada suatu saat akan mengeluh karena perasaan kecewa, misalnya. Tapi, jika sosok itu selalu saja mengeluh, kapan saja, atau pada saat apa pun, maka, itu sudah di luar batas normal dan wajar.
Bagaimana seandainya, sosok pribadi sang pengeluh itu ternyata Anda sendiri? Bagaimana rasanya, saat Anda dicap sebagai sosok pribadi pengeluh?
Nyatanya, bahwa kehadiran sang pengeluh biasanya sudah diketahui oleh masyarakat umum. Maka, luapan muntahan kata-kata keluhanmu itu sudah tidak bakal digubris lagi. Orang-orang di sekelilingmu, telah mengetahui, bahwa itu adalah kekhasanmu.
Maka, mereka pun tidak akan menanggapinya lagi. Apakah itu berarti, bahwa kehadiranmu itu menyenangkan hati mereka? Mungkin saja, tidak!
Karena kehadiran sosok sang pengeluh biasanya tidak disukai, karena dianggap sudah over dosis atau suatu over action belaka.
Kehadiran sosok sang pengeluh dapat saja sangat mengganggu kehidupan, karena dia dianggap sebagai sesosok pribadi yang cengeng dan cerewet. Biasanya, ada orang yang berusaha untuk segera menghindar dari hadapan Anda. Mereka telah bosan dengan tangisan omelan serta keluhan Anda.
Pribadi sang pengeluh biasanya tampak sangat kaku. Segala sesuatu baginya adalah “hitam dan duka.” Tidak ada hal yang dipandang positif di depan matanya. Dia ternyata, sudah berlari sangat jauh serta berlarut-larut di dalam kubangan kobaran perasaan serba minus.
Dia akan selalu memandang dunia ini dari balik kacamata hitamnya. Ini, salah. Itu pun salah. Semua orang itu bersalah. Semua peristiwa serta kejadian adalah bermasalah dan merugikan. Maka, segera lenyaplah keceriaan di dalam hidup ini. Kini, lenyaplah sudah setitik kegembiraan di dalam hatinya. Baginya, kehidupan ini hanyalah sebuah malapetaka yang perlu terus diratapi.
Saudaraku, dan jika ternyata, Anda sendirilah sang pengeluh itu, maka sadari dan berdamailah dengan dirimu dan dengan dunia ini.
Dunia ini adalah ekspresi taman Eden yang sudah diberikan kepada sang manusia untuk didiami.
…
Kediri,ย 23ย Maretย 2023
…
Foto ilustrasi: Istimewa

