Red-Joss.com | Pagi menjelang siang tadi, teman peziarahan spiritualku berucap: “Mesakke yo Pak, Santo Yosef itu. Sekali saja tampil langsung tak tampak. Seperti ‘bolo dupak’ dalam kisah pewayangan.”
Pada pergelaran wayang selalu ada tokoh yang sengaja dihadirkan hanya untuk memeriahkan suasana perkelahian di panggung atau geber pergelaran, namun dapat dipastikan pasti kalah, bahkan binasa. Mereka disebut ‘bolo dupak , sekali saja tampil, didupak (ditendang) dan (hilang) dari peredaran.
Sebenarnya tidak demikian dengan Santo Yosef. Betul, bahwa beliau tidak setenar Bunda Maria, yang kisahnya tidak pernah habis.
Selain identik dengan sosok laki-laki tampan, nama Yosef juga memiliki sifat dan karakter yang menarik. Nama Yosef identik dengan kebebasan dan kemandirian. Yosef adalah seorang yang mampu dan berani mengambil risiko atas setiap keputusannya.
Demikian pula dengan para pengagumnya, yakni para pengabdi kemanusiaan. Mereka tidak owel disebut ‘bolo dupak’, yang sesekali saja tampil, sebab mereka tampil bukan demi prestasi, tapi mengabdi. Ya, mengabdi. Maka, sama seperti Santo Yosef, bukan periode atau peran tetapi kepasrahan dan keikhlasan dalam menjalani peran itu.
Kehidupan St Yosef, suami Maria, memberi inspirasi pada kita untuk rela dan ikhlas dalam pengabdian, walaupun ada juga yang merasa: “Kasihan ya, sudah banyak berjuang, melayani, tapi kurang dianggep, dilupakan.”
Sesungguhnya, “bukan yang dilihat manusia, tapi yang dilihat Allah. Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” (1 Samuel 16:7b)
Percayalah, tidak ada ‘bolo dupak’ di mata Allah. Semua berharga.
…
Jlitheng
…
Foto ilustrasi: Istimewa

