Red-Joss.com | Dalam pertemuan APP (Aksi Puasa Pembangunan) semalan diwarnai nada “gamang,” ketika dihadapkan pada pertanyaan “apa yang dapat aku bantu” sementara “kondisiku sendiri tak menentu.”
Banyak perusahaan yang koleps, dan dengan derai air mata terpaksa memutus hubungan kerja dengan para karyawan setia, agar kapal yang sudah oleng itu tidak tenggelam. Ketika tidak lagi kerja, apa yang dapat dibuat, ketika banyak usaha yang sekali timbul dan tenggelam.
Bagi kami yang masih bertahan pun tidak merasa jenak, sebab suara maut “phk” itu terdengar, terlihat terjadi tiap hari, di depan mata dan bahkan oleh tangannya melalui surat-surat phk yang diterbitkannya. Sang waktu bisa menggilirnya juga. “Kalau kami saja yang masih bekerja dan menerima gaji setiap bulan merasa begini, apalagi mereka yang bukan karyawan,” ujar peserta pertemuan yang sehari-hari adalah orang penting dari satu perusahaan ternama.
Ketika Tuhan tidak hadir dalam sharing seperti itu, maka kecemasan yang satu akan menindih kecemasan yang lain, dan saling menindih. Sebab, ketika sharing muatannya bukan iman takkan memberi daya baru, tidak menjadi seperti “tetesan air hidup” sehingga hidup ini sebenarnya tidak urup walau dikelilingi banyak api yang bernyala.
Dalam sejarah keselamatan “Tuhan selalu hadir” dalam diri orang kecil, sederhana, tidak diperhitungkan, bisu, tuli, buta, miskin, kurang pinter, tak punya jaminan ekonomi yang kuat, cacat, tidak sempurna, di situlah Dia menyatakan kuasa-Nya. Seperti ‘Kisah Kolam Siloam’ hari ini.
Tadi malam, seorang wanita tua, janda miskin, kerjanya jualan mainan di sekolah, jadi saksi iman tentang betapa baik dan adilnya Tuhan. “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya.” Ketika pemandu bertanya: “Ibu melakukan apa ketika tak bisa jualan lagi?” Dengan wajahnya yang polos, ibu itu menjawab: “Saya tanam pepaya dan pisang di tanah samping rumah. Buah dan daun pepaya kujual kepada temanku. Mereka menolong. Itulah rejekiku.” Ibu M itu percaya sekali, bahwa Tuhan sungguh menopangnya. Dia, melalui hidupnya dan kesetiaannya melindungi dua anak gadisnya, ingin mengatakan… Tuhan kita baik dan adil
Ketika Tuhan dipihak kita, siapa mampu melawan.
…
Jlitheng
…
Foto ilustrasi: Istimewa

