Nilainya Kecil, tapi Bebannya Nyunggi Langit

“Makan 3 potong, tapi membayar 1. Berhutang untuk ngemplang itu pun hal yang biasa. Menjadi luar biasa, jika kita berani jujur dan bertanggung jawab.” -Mas Redjo
Kebiasaan buruk, jika dipiara dan diternak di hati itu bakal beranak pinak serta jadi sumber penyakit, mencelakakan diri ini, dan bahkan mematikan!
Jujur dan tidak harus malu untuk mengakui, setidaknya kita pernah melakukan perbuatan konyol itu. Hal itu juga pernah saya lakukan belum lama ini dan tanpa disengaja.
Saya, istri, dan anak makan malam nasi soto di bilangan CI, dan istri yang membayar. Sesampainya di rumah, saya ingat wedang jeruk yang lupa dihitung. Perasaan itu membuat saya jadi tidak tenang dan gelisah.
Kebiasaan hidup jujur membuat hati ini direjam perih. Orang tua saya yang pedagang di terminal itu selalu mengingatkan anak-anaknya untuk tidak menginginkan hak milik orang lain dengan curang. Misalnya makan gorengan 3 potong, tapi mengaku dan membayar 1 itu tidak berkah, serta dapat jadi penyakit. Saya juga mempunyai pengalaman tentang pelanggan yang kelebihan jutaan rupiah membayar bon, tapi uang itu segera saya kembalikan kepadanya.
Saya ingat dengan nasihat bijak Bapak, bahwa hal-hal positif dan baik itu wajib diteladani dan dibagikan. Sebaliknya hal negatif dan buruk itu harus dibuang jauh.
Wedang jeruk itu nilainya kecil, tapi membuat pikiran dan hati saya serasa berbeban berat. Istilahnya, ‘nyunggi langit’. Rasa bersalah itu membuat hidup saya menjadi tidak tenang. Apalagi, saya sedang sakit batuk pilek cukup parah, sehingga saya minta diinfus multi vitamin agar kondisi tubuh saya membaik dan sehat.
Saya ingin minta tolong anak ke warung itu untuk membayarkan hutang minuman, tapi anak bekerja di kota, dan beda arah. Saya yang berbuat salah dan bertanggung jawab, tapi belum sehat benar.
Saya juga ingat nasihat para bijak, bahwa “uang digunakan sebagai pelayan itu baik. Jika menjadi majikan, ia rakus.” Karena berapa pun uang yang disetor, ia selalu berkata kurang.
Bagi saya pribadi, hutang adalah hutang yang harus dilunasi, meski tidak disengaja. Jika ditunda-tunda akan jadi preseden dan kebiasaan buruk yang merugikan orang lain, serta mencelakakan diri sendiri. Bagaimana, jika malam nanti saya dipanggil untuk menghadap Tuhan?
Catatan kehidupan yang hitam itu tetaplah hitam, tidak dapat ditutupi atau dimanipulasi. Karena Tuhan bersemayam di hati.
“Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun saatnya itu tiba” (Mat 25: 13).
Dengan gojek, siang itu saya ke warung soto. Untuk makan siang, dan sekaligus untuk membayar hutang wedang jeruk.
“Maaf ya, Mas, Minggu kemarin saya kelupaan menghitung.”
“Sama-sama, Pak. Terima kasih.”
Saya tersenyum malu, tapi hati ini menjadi lega, dan plong!
Mas Redjo
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.