Anak Cucu Tirani dan Machiavelis

Mosaik Serpihan Kelana -99
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores


1.

Bermandikan kilau gemerlap digital
tampil sosok pejabat dan wajah politisi berpidato
Ribuan buser sosmed merekam dengan kreasinya
karena angka yang telah dibayarkan
Dengan semangat berkobar penuh percaya diri
mereka menyiram kata berbusa menjadi ombak gelombang
“Kekuasaan adalah tujuan luhur dan suci
Maka apa pun caranya harus direbut
meskipun harus korbankan harkat dan nyawa sesama
biarpun dicap jahat maling dan rakus
Karena dengan kekuasaan itu diperoleh
maka ada takhta singgasana kewenangan
serta mahkota kebanggaan dan tongkat komando kewenangan
maka harta kekayaan bisa dimiliki dan diwariskan
maka kepuasan selera nafsu pasti gampang didapat”

2.

Tirani itu kekuasaan mutlak yang dilakukan sesuka hati pemiliknya
Selera dan gengsinya adalah hukum
Apa saja yang dikatakan dan dilakukan adalah kebenaran
Siapa yang taat dijadikan budak setia
tetapi mereka yang melawan Sang Penguasa pasti dibungkam dan dihilangkan
dengan segala cara dan sarana
Itulah wajah Machiavelis karena membenarkan segala cara berpikir dan kehendak bertindak
demi meraih semua tujuan yang dikehendaki
Dan…
Fakta sejarah mencatatkan pasti di panggung politik
Tidak ada kawan sejati dan sahabat abadi
Yang sejati abadi hanya kepentingan selera dan gengsi
Adakah sosok wajah tirani dalam deretan kasus korupsi di negeri ini
Mungkinkah pejabat koruptor, politisi busuk dan pebisnis tamak adalah anak Tirani cucu Machiavelis?

3.

Para pendengar pidato di atas panggung politik
Ada yang bertepuk tangan sambil melambaikan bendera aneka warna
Karena mereka dikerahkan dengan kata janji dan angka uang
Karena dijamin makan minum yang dibagikan
Karena mungkin juga banyak yang sekadar menikmati rekreasi di arena pesta demokrasi
Sedangkan para pemirsa di sosial media
ada yang tergiring angin sesuai kehendak pemberitaan para buser sosmed
Ada yang bersemangat menyetujui karena baru kembali dari pesta demokrasi dan mendengar pidato di panggung politik
Ada yang lain memposting foto pribadi dan kelompok sebagai bukti dukungan
Jiwa raga mereka telah dimenangkan para Tirani dan Machiavelis
Sedangkan pemirsa yang berbeda selera politik
coba menulis aneka pendapat dan hujatan
karena berbeda selera dan kepentingan

4.

Aku coba melempar tanya kepada angin
Adakah anak cucu Tirani dan Machiavelis di negeri ini
ternyata senyap jawaban di antara juataan hektar hutan yang dibabat pengusaha
rupanya tak ada kata dari bermacam lokasi tambang legal dan liar di tanah air ini
Kepada pegiat media, para cendekiawan dan tokoh masyarakat sipil coba kutanya
apakah hutan belantara undang-undang dan aturan turunannya adalah bukti penegakkan wibawa hukum bagi bangsa dan rakyat di negara ini
Dan jawabannya adalah postingan pertengkaran para politisi, pejabat dan pakar akademik yang viral di sosial media
Jawaban paling menarik adalah terus membudaya kasus korupsi dari tingkat pusat hingga desa di Negara kita
dan sering tak jelas penyelesaiannya
serta tersembunyi nasib koruptor di rutan dan dana korupsi hasil sitaannya
Mungkin anak cucu Tirani dan Machiavelis adalah pembuat skenario, pemilik panggung sandiwara dan pemain profesionalnya

5.

Ketika bertanya kepada rakyat korban penggusuran lahan
“Apakah kalian kenal sosok Tirani dan Machiavelis yang menindasmu”
Ternyata mereka tak punya suara untuk menjawab
dan galau kebingungan karena tidak mengerti
“Apa arti Tirani dan Machiavelis, apalagi mengenal siapa orangnya”
Dari sosial media ada yang pernah mendengar dan melihat
tetapi mereka juga lewatkan begitu saja informasinya
karena sedang dicekik lapar dan dicengkram lara nestapa
“Apakah hari ini masih bisa makan minum atau tidak
Apa dan siapakah dirinya di negeri ini”
Sejarah zaman mencatat parade kekuasaan politik
sebagai panggung sandiwara kepentingan para pemainnya
Bukan tentang keselamatan dan kesejahteraan rakyat jelata

6.

Kepada jutaan hektar hutan dan lahan yang terbakar
ada tanya tentang siapakah para tirani itu
Kepada langit yang ditutupi kabut pekat asap
coba dicari sosok wajah para Machiavelis
Tetapi…
Tak ada pejabat negara yang mengaku dirinya Tirani dan Machiavelis
Tak ada juga yang menyebut diri koruptor, politisi busuk dan pebisnis rakus tamak
Karena uang masih diandalkan bisa membeli segala sesuatu
Karena senjata diyakini mampu membunuh semua pihak penghalang
Karena kenikmatan selera digunakan sebagai cara membutakan cendekiawan, pemangku adat budaya dan tokoh agama
Anak cucu Tirani dan Machiavelis sangat cerdas dan cerdik menghalalkan segala cara demi meraih tujuannya
Mampu menciptakan seribu wajah dan sejuta topeng bagi dirinya
Apalagi dengan kecanggihan sarana iptek zaman now
Mereka adalah tuan atas semua sumber daya alam
dan Tuhan bagi semua masyarakat lemah sederhana