Berbuat Baik

“Stop dipermainkan, mulai bijak bermain.” -Rio, Scj.

Belum lama ini ada umat yang ‘sharing’. Hidup kok kayak gini ya; aku udah banyak membantu, tapi kok balasannya kayak gini. Orang yang selama ini tak bantu malah menyakiti. Orang yang tulus saya tolong kok nyolong. Materi, tenaga, perhatian dan kasih sudah tulus saya berikan malah dibalas dengan kekecewaan.

Sebuah fakta yang mungkin kita alami. Kita bantu banyak orang, tapi giliran kita butuh bantuan nggak ada satupun yang datang. Itu bukan kebetulan, 500 tahun lalu Niccolo Machiavelli sudah menulis “orang yang ingin selalu berbuat baik dalam segala hal pasti akan hancur di tengah begitu banyak orang yang tidak baik”. Kedengarannya kejam, tapi begini kira-kira dalam kehidupan nyata.

Kita terus membantu dan kita kira lagi nabung rasa terima kasih. Seperti nabung di bank, tapi waktu kita mau tarik. Tabungannya kosong! karena kebaikanmu sudah lama nggak dianggap hadiah. Kebaikanmu dianggap seperti air keran. Selama masih mengalir, nggak ada yang memperhatikan.

Ada tiga tanda kalau ini sudah terjadi dalam hidup kita; Pertama, kita makin jarang dengar makasih. Kalau pun dengar rasanya seperti “terima kasih” dari kasir minimarket, otomatis. Kedua, orang cuma ingat kalau mereka lagi butuh sesuatu. Ketiga, sekali aja kita menolak. Mereka langsung tersinggung seolah-olah kita punya hutang sama mereka.

Menolong orang itu nggak salah. Masalahnya muncul kalau kita nggak bisa berhenti memberi. Kebaikan yang sebenarnya itu waktu kita memberi karena kita memang memilih untuk memberi. Bukan karena kita enggak enak menolak. Berhenti dimainkan, mulai bermain.

Deo gratias.

Rm. RP Rio, Scj