Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com | Kita, sang manusia yang adalah “mahkota dari segala ciptaan,” pun perlu “mau” belajar dari alam.
Tulisan kecil ini, diturunkan lewat keterbukaan nuraniku, atas dasar kekagumanku, bertolak dari “hasil pengamatan dan pengalamanku,” atas fenomena alam.
Setelah sekian lama, saya “berproses belajar” memelihara/berternak berapa ekor ayam, yang adalah makhluk alam, saya pun menemukan dan menyimpulkan, bahwa ada beberapa tindakan (naluriah), perangai ayam yang sanggup menginspirasi saya hingga turunnya tulisan kecil ini.
Ayam adalah makhluk alam yang keunikannya โmengais dan mencotokโ. Keunikan ini, sampai-sampai, nenek dan kakek kita pun rela menciptakan ungkapan, “mengaislah, demi sesuap nasi.”
Atau ungkapan serupa yang mirip, “Jika kamu ingin hidup, mengaislah laksana sang ayam.”
Secara insting naluriah, sang ayam pun ternyata juga sudah โberprosesโ demi mempertahankan hidupnya. Insting hewani ini, baik juga, jika kita cermati agar kita termotivasi untuk berjuang demi hidup kita.
Ironis memang, jika sang ayam yang tidak berotak dan berpikir, ternyata mampu juga mengajar kita, sang manusia.
Ayam itu ternyata bekerja lewat proses. Pertama, seekor ayam mengamati, di mana tempat akan menemukan makanan. Kedua, sang ayam pun lalu mengais dengan kedua kakinya. Ketiga, sang ayam pun lalu mencotok makanan.
Adapun tindakan naluriah terstruktur/sistematis ini, ternyata mampu menggerakkan hati nenek dan kakek kita untuk melahirkan ungkapan, “Menjunjung di bahu, memikul di kepala,” yang bermakna, jika Anda bekerja, lakukanlah secara berproses dan bertahap, tidak serampangan.
Saudaraku, kelaparan itu adalah ekspresi dari kemiskinan, dan kemiskinan adalah buah dari egoisme. Fakta inilah penyebab lahirnya brutalisme di dalam konteks hidup bermasyarakat.
Belajarlah juga dari alam semesta, karena di sana pun terdapat aneka nilai kearifan.
Ternyata, sang ayam pun memiliki aneka nilai kearifan yang dapat kita pelajari. Semisal, kesetiaan sang ayam, mengepakkan sayap-sayapnya demi melindungi anaknya dari caplokan cakar elang rajawali. Atau, ada induk ayam yang rela dimakan kobaran api membara demi melindungi anak-anaknya. Dan juga, setelah mengais tanah, sang induk ayam pun akan memberikan kesempatan itu kepada anaknya untuk mencotok dan bukan bagi dirinya.
Rela belajar dari alam, dari sang ayam, sangat mungkin bagi sang manusia yang bersikap sangat peduli dan terbuka hatinya.
Tentu, di dalam konteks ini, dibutuhkan sikap sang manusia yang peduli serta ada kemauan untuk belajar.
Sang manusia, yang juga sebagai makhluk alam, tentu juga memiliki naluri untuk mempertahankan hidupnya serta generasi sesudahnya.
Saudaraku, semoga tulisan kecil ini, sanggup menggerakkan hati kita untuk rela dan mau belajar dari aneka fenomena alam di sekeliling kita.
Alam semesta pun dapat menjadi guru kehidupan!
…
Kediri,ย 19ย Maretย 2023
…
Foto ilustrasi: Istimewa

