Refleksi Filosofis-Antropologis:
Siapakah Manusia

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Inilah satu-satunya makhluk ciptaan yang sanggup mempertanyakan tentang hakikat dirinya sendiri.”
(Didaktika Hidup Sadar)

  • Pasir dan batu, tidak pernah bertanya, mengapa mereka justru menjadi pasir dan batu.
  • Bahkan si buas harimau pun tidak pernah bertanya, siapakah dirinya?

Cobalah di tengah malam gulita, tatapilah lelangit yang bertaburan ramainya genit gemintang, dan bertanyalah, “Tuhan, aku ini siapa. Dari manakah aku datang, dan aku pun hendak ke manakah?”

Justru dari situlah misteri tentang makhluk manusia itu bermula dan terkuak.

  1. Manusia adalah Paradoks yang Berjalan

Manusia itu adalah hamparan serakkan debu tanah, tapi juga sekaligus gemintang.

Untuk diketahui, dari aspek antropologi, manusia itu adalah binatang, karena ia bisa merasa lapar, haus, takut, dan memiliki nafsu.

Dari aspek filsafat, manusia dengan tegas akan menolak, bahwa dirinya bukanlah binatang. Karena manusia itu, ternyata bisa berseni, berpuisi, berpidato, dan sanggup pula berpikir dan berkreasi. Bahkan nafsu-nafsu liarnya pun diubahnya jadi cinta.

Sebaliknya, bisakah seekor induk ayam menciptakan karya seni puisi dan menulis syair lagu? Tidak. Hanya makhluk manusia yang rela mati demi menegakkan keyakinannya.

Di sisi lain, manusia itu juga tidak betah berada di bumi ini, karena di saat sebelah kakinya menginjak di bumi, tapi pikirannya justru rindu untuk menggapai langit biru.

  1. Manusia adalah Makhluk yang Merindu

“Anthropos,” makhluk yang menengadah ke langit, demikian sebutan bagi manusia dalam bahasa Yunani.

Mari Cermati Tingkah laku Manusia:

  • (1) Di saat ia sanggup berharap, maka ia akan menengadah.
  • (2) Nah, demikian pula di kala ia sedang sibuk mencari Tuhan.

Ya, itulah antropologi terdalam, bahwa manusia itu adalah makhluk yang kurus, karena ia selalu merasa ada yang hilang. Maka, di kala ia memiliki sesuatu, maka akan dicarinya makna serta arti terdalam, di baliknya itu. Jika sudah ditemukan maknanya, maka ia akan melompat untuk mencari cinta dan keabadian.

Dapat dibandingkan, bukankah jika seekor gorila sudah merasa kenyang, maka ia akan berhenti. Tapi, di kala seorang manusia merasa sudah kenyang, maka ia akan bertanya, sekarang apalagi yang akan kucari.

Perasaan rindu yang kadangkala datang tak menentu, membuktikan, bahwa makhluk manusia itu tidak hanya untuk hidup di bumi ini.

  1. Manusia adalah Kisah yang Belum Selesai

Secara biologis, manusia itu adalah makhluk yang lemah. Inilah tanda-tanda lahiriahnya, bukankah ia tidak punya cakar seperti singa? Juga tak bersayap, layaknya elang rajawali. Lihatlah pada seorang bayi manusia, bahwa ia membutuhkan waktu yang lama untuk bisa bersikap mandiri. Sedangkan seekor anak ayam, setelah metetas, ia bisa langsung mencari makan dan bahkan sanggup untuk berlari.

Sebuah pertanyaan! “Sesungguhnya, siapa manusia itu?” Anda tidak akan sanggup untuk mendefinisikannya dalam konteks ini. Pertanyaan ini hanya mampu dijawab lewat sebuah proses kehidupan.

Jadi, siapakah manusia itu? Ia adalah makhluk yang tahu, bahwa dirinya akan mati dan justru itu, maka ia pun ingin memberi arti serta makna pada hidupnya.

Ya, benar, manusia itu bukanlah Malaikat, tapi sekaligus ia bukanlah binatang. Ia adalah sesuatu dari di antara yang sedang berjalan pulang (sang homo viator).

Kediri, 7 November 2026