Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Dari pengalaman di kampung halaman, salah satu ikatan kuat dalam komunitas adat budaya adalah relasi darah, karena perkawinan serta relasi sosial karena ikatan sosial adat budaya. Relasi itu diwariskan oleh para pendahulu dengan tata krama, norma aturan, nilai dan makna serta ritual budaya. Relasi kebersamaan saling melengkapi dalam momen suka maupun duka, untung maupun malang. Selain kehadiran dan peran pribadi serta keluarga, juga ada wujud barang dan jasa yang menjadi bentuk ungkapan relasi itu.
Ada semacam catatan tak tertulis, untuk saling berbalas, karena pengalaman para pendahulunya. Tabungan relasi sosial adat budaya itu diwarsikan kepada anak cucu, sehingga sulit terlupakan. Memang, perkembangan zaman, dengan kemajuan pengetahuan dan teknologi, juga perubahan pola relasi sosial, sehingga ikatan itu agak kendor. Mungkin ada semacam penyederhanaan sesuai kemampuan faktual. Namun, beban moril sering menjadi semacam tagihan tak tertulis.
Menghadapi fakta saling berbalas material, kelihatan ada semacam fenomena baru, di mana ada saling berhitung dan iri hati di satu pihak, dan kesadaran untuk semakin realistis di pihak lain. Komunikasi menjadi andalan atas fakta, bahwa kemampuan para pendahulu berbeda dengan kemampuan dan kebutuhan zaman sekarang.
Harapannya, saat suka duka, semakin ada keterbukaan komunikasi antar pihak keluarga maupun anggota dalam komunitas adat budaya, agar nilai dan makna positif ikatan sosial terus dijaga, tapi wujud material dan jasa dapat semakin bijaksana diperhitungkan sesuai kemampuan riil saat ini. Hal ini sangat bergantung pada cara pandang dan nilai tentang ikatan kekerabatan serta komunikasi yang semakin kreatif. Suka duka terus terjadi, kebutuhan saling melengkapi tidak hilang, namun keterbukaan dan kebijaksanaan sesuai kemampuan perlu diperhitungkan. Manusia bertambah, kebutuhan terus meningkat, tapi sumber daya alam dan kemampuan pribadi semakin terbatas.
…
Foto ilustrasi: Istimewa

