Faktor Kristus

Setiap dari kita yang mengikuti Kristus memiliki hak dan kewajiban untuk menyatakan iman, bahwa kita masing-masing seperti saat ini, karena faktor Kristus. Menurut paham Teologi fFundamental Kristen, Yesus Kristus adalah rasio fundamentalis atau alasan dasar iman kita. Kalau bukan Dia, iman kita pasti sudah berwujud lain dan kita tidak memiliki kenyataan hidup seperti pada saat ini dan di tempat ini.

Masing-masing dari kita dapat membuat daftar panjang berisi kebaikan, keuntungan, mukjizat, keberhasilan, dan keindahan yang faktor alasan dasarnya ialah Yesus Kristus. Kalau tentang panggilan hidup, seorang Biarawan atau Imam sangat wajar dengan bangga dan syukur menyatakan, bahwa faktor Kristus adalah jawaban tertinggi dan terakhir bagi kelangsungan panggilan hidup dan perutusannya. Demikian juga bagi setiap profesi dan jalan hidup yang dipilih. Faktor Yesus sebagai penentu kehidupan kita, baik saat ini maupun di masa depan setelah kematian kita. Jika bukan faktor Yesus berarti seseorang itu pada prinsipnya tidak memilih Yesus Kristus sebagai jalan utama hidupnya.

Santo Paulus berbagi keyakinan hidupnya kepada jemaat di Filipi, setelah ia bertobat, bahwa masa lalunya telah membuat ia dikenal luas dan penuh kuasa. Tapi semua itu kemudian dianggapnya sebagai kerugian total, ketika ia menjadikan Kristus sebagai alasan utama dan terakhir hidupnya. Berbagi pengalaman iman seperti ini sudah sangat jamak terjadi di antara kita umat Kristen dalam aneka konteks, baik kelompok kecil maupun besar, dalam forum informal sesama teman maupun dalam kesempatan homili Imam di Gereja.

Di dalam melakukan pelayanan pewartaan dan kasih, hendaknya faktor Kristus itu diutamakan. Tujuannya supaya wajah Kristus menjadi dominan dan menjadi daya tarik universal serta patokan untuk pencapaian kebaikan dan kebenaran tertinggi. Kita perlu menghindari setiap kesaksian hidup di dalam kata, perbuatan dan pelayanan yang cenderung mengaburkan peran faktor Kristus, sehingga yang justru lebih tampak ialah peran pribadi manusia tertentu, kelompok, ide, situasi, atau materi tertentu. Jika semua itu dipaksakan untuk menggantikan posisi faktor Kristus, tujuan mulia untuk keselamatan dan kebahagiaan abadi akan meleset.

Faktor Kristus memiliki tujuan yang mulia dan tertinggi, ialah keselamatan setiap orang tanpa kecuali. Sebaliknya faktor lain yang bukan Yesus pasti tujuannya untuk kepentingan sendiri dan pasti berbentuk diskriminasi, perpecahan, dan pemisahan. Yesus sendiri mengajarkan, bahwa satu orang atau bagian saja yang hilang, ia harus dicari dan diselamatkan. Di Surga akan ada sukacita besar, bila satu atau sebagian itu berhasil di selamatkan.

“Ya, Yesus, jadikanlah kami penyelamat-penyelamat bagi sesama yang hilang dari-Mu atau tersesat dari jalan keselamatan yang kekal. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)