Alasan yang Sopan

Undangan hajatan di kampung jarang ditolak terang-terangan. Orang menolak dengan halus: wah, maaf, kebetulan ada acara. Sopan sekali, tetapi hasilnya sama saja. Kursi kosong, padahal Tuan rumah sudah memasak besar-besaran.
Perumpamaan Yesus yang penuh penolakan sopan semacam itu. Ada yang baru membeli ladang, membeli lembu, dan ada yang baru menikah. Perhatikan baik-baik: tidak satu pun alasan itu jahat. Semuanya urusan yang wajar, bahkan baik. Justru itu yang menakutkan. Yang menghalangi kita datang kepada Allah jarang berupa dosa besar. Lebih sering berupa kesibukan yang masuk akal.
Tuan rumah tidak membatalkan pesta. Ia mengubah daftar tamu: orang miskin, cacat, buta, dan orang lumpuh. Orang-orang yang tidak punya ladang untuk ditengok dan lembu untuk dicoba. Orang yang hanya punya lapar dan waktu. Ternyata itulah syarat menghadiri perjamuan Allah: merasa butuh, lalu datang. Perjamuan itu tetap penuh, dengan atau tanpa kita.
Undangan itu masih berlaku sampai hari ini. Ekaristi, doa pagi, Sabda yang menunggu dibaca. Segala sesuatu sudah siap, kata sang Tuan rumah. Yang belum siap biasanya kita. Alasan sopan apa yang sedang kita susun hari ini?
Tuhan, jangan biarkan kesibukanku yang wajar membuat kursiku kosong di perjamuan-Mu. Amin.
(Doa Katolik – KAS – Selasa, 03 Nopember 2026)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.