Menjadi Kudus dalam Kehidupan Sehari-hari

“… dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih” (Why 7: 9b).

Yohanes melihat banyak orang dari berbagai bangsa berdiri di hadapan takhta Allah dan Anak Domba. Mereka mengenakan jubah putih dan memuji Allah. Mereka adalah orang-orang yang telah melewati perjuangan besar dan tetap setia kepada Tuhan.

Pada Hari Raya Semua Orang Kudus ini, kita diingatkan, bahwa kekudusan bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan kita. Para kudus juga pernah mengalami kesulitan, kelemahan, dan pergumulan. Namun, mereka tidak berhenti percaya dan menyerahkan hidup kepada Allah. Kita pun dipanggil untuk menjadi kudus. Bukan dengan melakukan hal-hal luar biasa, melainkan dengan setia menjalani hal-hal sederhana: mengasihi ketika sulit, mengampuni ketika terluka, berkata jujur, menolong dengan tulus, dan tetap berbuat baik meskipun tidak diperhatikan. Mungkin kita masih sering jatuh dan gagal. Namun, kekudusan bukan berarti tidak pernah jatuh, melainkan selalu mau bangkit dan kembali kepada Tuhan. Hari ini, marilah kita bertanya: Apakah hidup saya semakin mendekatkan diri kepada Tuhan? Semoga teladan para kudus menolong kita untuk tetap setia sampai akhir.

Sr. M. Yovita, P. Karm

Minggu, 01 November 2026
Hari Raya Semua Orang Kudus
Hari Minggu Imam
Why 7: 2-4.9-14; Mzm 24: 1-6; 1Yoh 3: 1-3 Mat 5: 1-12

Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com