Refleksi Filosofis:
Tentang Lidah Bercabang

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Jadilah pribadi yang hanya memiliki satu lidah”
(Suara Sang Kebenaran)

Inilah racun tertua di muka bumi… !

  1. Ular yang Pertama, Lidahnya Bercabang

Alkitab memang tidak memerinci: apa dan bagaimana keadaan, bentuk, serta rupa ular, penggoda Hawa itu. Tapi sudah sejak semula, para pelukis melukisnya lewat satu ciri khas, yakni ular itu ‘lidahnya bercabang.’ (Dari kisah di Taman Eden).

Mengapa ular itu justru bercabang lidahnya? Ya, itulah simbol dari ‘satu mulut, tapi mampu mengeluarkan dua buah kebenaran yang kontras atau saling berlawanan.

Di hadapan Anda, ia akan berkata, “Aku ini sahabatmu.” Tapi di belakangmu, semisal lewat grup WA, ia pun berkata, “Awas, dia itu licik.”

Ya, itulah satu lidah dengan dua arah. Seperti lidah ular yang menjilat ke kiri dan ke kanan untuk membaui (menciumi), mangsanya.

“Cangkeme manis, atinewisa. Lambe gulo, buntut telo” Mulutnya manis laksana gula, tapi hatinya racun. Bibirnya gula, ekornya umbi beracun (filosofi Jawa).

Di zaman modern ini, lidah bercabang pun mempunyai sarana baru, HP. Eh, ternyata jempol Anda pun bisa bercabang juga.

  1. Mengapa Lidah Bercabang Begitu Berbahaya?

Ternyata ada tiga bahaya besar!

  • Pertama, ia membunuh kepercayaan. Sang arifin bilang, “Kebohongan itu akan beranak pinak, dari satu kebohongan, butuh seribu kebohongan lain demi menutupinya. Dampaknya, bahwa tidak seorang pun yang masih mau mempercayainya.
  • Kedua, ia membela dirinya sendiri. Pembohong malah akan lupa pada wajah aslinya sendiri. Nah, demikianlah karakter asli dari lidah bercabang.

Di pagi hari, ia tampil bak seorang Malaikat, tapi di petang hari, ia tampil bak Iblis laknat. (Ya, inilah si topeng ajaib).

  • Ketiga, ia menajiskan doa. “Dari mulut yang sama ke luar berkat dan kutuk. Hal ini saudara-saudaraku, tidak boleh terjadi demikian.”
    (Yakobus 3:10).

Bisakah Tuhan yang Maha Lurus itu akan menerima doa dari si cabang lidah?

  1. Obatnya: Jadilah Lidah yang Satu, Lurus, dan Pendek

“Aja kakean cangkem.” Singkatnya, jujur, dan lurus. (Jika ya, maka katakan, ya, dan jika tidak, maka katakan tidak).

Tiga Macam Obat bagi Cabang Lidah

  • Jujurlah saat berada di depan dan juga saat berada di belakang.
  • Lebih baik, berusahalah untuk bersikap diam.
  • Berani mengakui kesalahan.

“Manusia bercabang lidah bisa kita hindari dengan satu cara: jangan pernah menjadi salah satunya.”

“Jadilah manusia yang hanya memiliki satu lidah!” (Satu hati, satu kata, dan satu tujuan).

Kediri, 1 November 2026