Kerendahan Hati yang Benar

Seorang siswa SMP bercerita tentang bagaimana terpilihnya ketua OSIS di sekolahnya. Ia bersama dengan sejumlah temannya di dalam tim pencalonan, berusaha mensosialisasikan kriteria yang dibutuhkan untuk mendapatkan calon yang terbaik. Prioritas kriteria itu ialah seorang siswa yang jujur, apa adanya, pandai bergaul, tanggung jawab dalam bekerja, suka rela berkorban untuk melayani, dan dikenal baik oleh para siswa lainnya maupun para Guru.
Proses pencalonan itu kemudian mengerucut sampai pada seorang teman kelasnya, yang dianggap memiliki semua kriteria yang ada. Ketika ditanya, apakah ia sungguh yakin kalau teman kelasnya sebagai orang yang tepat menjadi ketua OSIS, siswa tadi menjawab begini: “Sehari-hari kami melihat dia menyatu dengan semua yang lain dan sudah memiliki semangat pengorbanan dalam bekerja dan melayani tanpa pamrih. Sebaiknya ia melanjutkannya saja ke tingkat yang lebih tinggi di dalam OSIS.”
Perumpamaan yang dikisahkan Yesus di dalam Injil tentang orang yang rendah hati itu, terlebih dahulu memilih tempat di belakang, di antara banyak orang, di dalam ruang pesta. Gambaran ini mirip dengan pribadi teman kelas tadi, yang diketahui oleh umum dengan semua sikapnya yang nyata di antara sesama siswa. Berbekal atau berlatar belakang itulah, maka ia dipromosikan dan dipercayakan ke tempat yang lebih tinggi, di depan, dan dalam tanggung jawab yang lebih besar, misalnya menjadi seorang pemimpin.
Ini adalah sebuah ciri utama kerendahan hati yang benar. Tuhan meminta kita untuk menjadi rendah hati, karena Ia sendiri menjelaskan diri-Nya sebagai yang lemah lembut dan rendah hati. Bunda Maria ikut mengingatkan dalam nyanyian magnifikat, bahwa mereka yang tinggi hatinya dan congkak akan dipermalukan dan diusir pergi dengan tangan hampa.
Sesungguhnya, ciri kerendahan hati itu terlihat dalam wujud bekerja untuk melayani, rela berkorban, dan memiliki prinsip, bahwa melalui pelayanan itu, orang lain mendapatkan kebaikan.
Satu ciri lain kerendahan hati yang benar, ialah kejujuran dan ketulusan, bahwa setiap jenis kebaikan dan kesuksesan di dalam diri kita adalah rencana dan penyelenggaraan Tuhan. Ketika kita lupa dan sengaja tidak menempatkan Tuhan yang berperan utama dalam menghadirkan kebaikan tersebut, kita secara nyata menambah pundi-pundi kesombongan. Santo Paulus menegaskan hal ini dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, ketika ia berseru: Bagiku hidup adalah Kristus dan mati menjadi keuntungan. Tuhan adalah pusat hidup kita, dan Ia menentukan setiap langkah dan keadaan hidup kita. Kebenaran Kristen yang kita jalani ialah hidup dalam kerendahan hati.
“Ya, Bapa yang Maha Kuasa, kami mempercayakan hidup ini ke dalam tangan-Mu, jadikanlah kami berguna bagi saudara dan saudari kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.