Red-Joss.com | Di saat-saat sangat hening seperti masa puasa ini saya memiliki banyak ruang untuk berkaca diri tentang :
(1) Apa sesungguhnya yang telah aku kerjakan untuk Tuhan?
(2) Apa kontribusiku untuk gereja dan masyarakatku?
(3) Apakah karena aku sudah ikut koor, temu pra – Paska tiap akhir pekan? Juga membagi komuni?
(4) Ataukah karena aku sudah pernah menjadi bagian dari setiap peran seperti Kaling, Korwil, SKK, Pamong Sabda atau bahkan DPP?
(5) Apakah karena aku tetap bisa berkarya sampai usia senja seperti saat ini?
Apa ukurannya, bahwa aku sungguh telah berbakti dan berkontribusi bagi Tuhan, gereja dan masyarakatku?
Jika kepentingan Tuhan, paguyuban dan bangsa ini ibarat samudera, kontribusi dan baktiku mungkin “ora ono sekuku ireng.” Akan tetapi, karena apa pun yang kuperbuat itu selalu kujalani “kanthi gumolong ing manah, atau dengan sebulat-bulat hati,” maka :
Saya dapat menilainya dari sudut pandang bijak sosok Bunda Teresa tentang nilai kontribusi yang sudah saya persembahkan bagi Tuhan, paguyuban, dan negara seperti berikut ini:
“Mungkin engkau merasa kontribusimu ibarat setetes air di tengah samudera luas (sama dengan sekuku ireng). Akan tetapi samudera akan merasa ada yang kurang bila setetes air itu tak ada!”
Bandingannya dengan derma janda miskin itu. Dermanya jadi bermakna bukan karena jumlahnya (banyak), tetapi karena diberikan dengan “gumolong ing ati”.
Pagi ini, seperti biasa, ketika otw home dari jalan bakti, saya melintasi seorang tua lumpuh satu kaki. Karena susah menjangkau beliau, saya titip pengendara motor yang di dekatnya. Tak kusangka Pak tua berdiri dekat mobil, menganggukkan kepala, dan, setelah mengangguk beliau kembali menerobos sela-sela motor dan duduk di tempat semula. Memang “Hanya setetes air atau sekuku ireng”. Tapi, “gumolonging ati membuat dia tersenyum. Merasa, bahwa Allah itu adil, sebab tidak mengabaikannya.”
Tetaplah berkontribusi, apa pun caranya, membuat sesama tersenyum.
…
Jlitheng
…
Foto ilustrasi: Istimewa

