Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tangan-tanganmu itu, simbol ketulusanmu!”
Red-Joss.com | Dalam Perang Dunia (PD) ke -2, sebuah kota kecil di Jerman berantakan dibombardir tangan sang musuh. Seusai perang, sebagian kecil dari tentara Amerika, memasuki kota itu.
Di sana, tampak ada bangunan megah yang runtuh. Beberapa tentara itu pun memasuki reruntuhan itu, yang ternyata sebuah gereja.
Betapa, mereka pun terperanjat terpaku, karena tampak di dalamnya, sebuah arca Kristus yang turut hancur melebur.
Spontan, para serdadu itu pun mengumpulkan serpihan-serpihan arca itu dan serius berupaya menyatukannya kembali.
Saudara, ternyata kerja keras, kerja cerdas mereka tidaklah sia-sia.
Kini, berdiri di hadapan mereka sebuah arca buntung. Arca itu, sudah tidak bertangan lagi. Mereka merasa sangat sedih.
Spontan, seorang di antara mereka pun menuliskan seuntai kalimat yang sangat interisan di bawah kaki arca itu. “Aku, sudah tidak bertangan lagi!”
Saudaraku, “aku sudah tidak bertangan lagi.” Demikian, seruan Sang Tuhan kepada kita hari ini.
Aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi, ini seruan si miskin, tetanggamu. Aku pun sudah tak bertangan lagi, ini seruan si pejabat yang dipaksa diturunkan dari jabatannya, karena gigih mempertahankan kejujuran.
“Aku sudah tidak memiliki tangan-tangan, kecuali tangan-tanganmu,” demikian seruan Sang Tuhan kepada Anda dan saya hari ini.
Di manakah tanganmu, demikian judul tulisan kecil ini. Seruan ini, datang dari ketinggian langit kebenaran. Seruan ini pun adalah teriakan minta tolong yang ke luar dari kerongkongan kaum tertindas di negeri ini. Seruan memilukan ini pun juga datang dari sang janda miskin yang bergubug di samping menara gereja, pura, klenteng, wihara, serta masjid di negeri yang rakyatnya sangat getol dengan slogan ritus-ritus keagamaan ini.
Tuhan kita, hari ini, memohon, agar Dia boleh mendapatkan kedua lengan kokoh perkasa kita. Tuhan kita, ternyata sudah tidak bertangan lagi. Tangan Tuhan telah lelah serta diremukkan karena ulah kedosaan kita.
Saudaraku, jika hari ini, ternyata, sang wartawan kita tidak lagi menulis kalimat-kalinat kebenaran, maka Tuhan pun sekali lagi berteriak kesakitan. Jika hari ini, lembaga pengadilan kita, justru rela berubah rupa menjadi badut-badut iblis, maka Tuhan pun akan berteriak kesakitan.
Lalu, jika hari ini, di negeri nan cantik jelita ini, tangan para perawat dan dokter pun lupa akan peran sucinya, maka Tuhan pun, sekali lagi berteriak kesakitan.
Semoga, tangan para ibu, para guru/dosen, serta para pemimpin kita yang ternyata lebih doyan ber-“hp” ria serta lupa untuk merawat keluarga, lupa akan pentingnya kedisiplinan saat bertugas, serta lupa akan kejujuran saat menyusun anggaran sebuah proyek; semoga, dedaun telinga mereka sudi mendengarkan suara rintihan Sang Tuhan.
“Tuhan, inilah tangan-tangan papa kami, berbuatlah sesuai kehendak suci-Mu!”
…
Kediri,ย 17ย Maretย 2023

