Menghidupi Kasih Menjadi Nyata

“Kita telah menerima kerahiman-Nya, kita dipanggil untuk menghadirkan kasih-Nya melalui perbuatan, perkataan, dan doa.”
Allah yang Maha Rahim,
Putra-Mu mengajarkan, bahwa hukum yang terutama adalah mengasihi Engkau dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, serta mengasihi sesama seperti diri sendiri. Kedua kasih ini tidak dapat dipisahkan, sebab kasihku kepada-Mu harus nyata dalam caraku memperlakukan sesama.
Engkau mengingatkan umat-Mu agar tidak menindas orang asing dan tidak memanfaatkan mereka yang lemah, sebab mereka sendiri pernah menderita sebagai orang asing di Mesir. Engkau mengajakku mengingat saat-saat, ketika aku sendiri membutuhkan pertolongan, pengertian, dan pengampunan, agar aku mampu mengenali kebutuhan yang sama dalam diri orang lain. Pemazmur memuji-Mu sebagai gunung batu, penyelamat, dan kekuatanku, sedangkan Santo Paulus menunjukkan, bagaimana iman menjadi kesaksian hidup bagi Injil-Mu.
Tuhan Yesus, Engkau menunjukkan, bahwa kasih bukan sekadar perasaan atau perintah hafalan. Kasih adalah tanggapan atas kerahiman yang terlebih dahulu kuterima dari-Mu. Seperti diingatkan Santa Faustina, Engkau menghendaki perbuatan belas kasih yang lahir dari kasihku kepada-Mu. Namun aku mengakui, bahwa tidak selalu mudah mengasihi mereka yang menyakitiku atau mereka yang sulit kupahami. Berilah aku hati seperti hati-Mu, agar aku mampu bersabar, berkata dengan lembut, mengampuni dengan tulus, dan menolong mereka yang membutuhkan.
Bapa yang Maha Rahim, lapangkanlah hatiku dan ubahlah hidupku melalui rahmat-Mu. Semoga doaku semakin mendekatkanku kepada-Mu, dan kasih yang kuterima mengalir menjadi belas kasih bagi sesama. Semoga melalui perbuatan-perbuatan kecil maupun besar, hidupku mewartakan, bahwa Yesus itu adalah Sang Kasih dan Kerahiman itu sendiri.
Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.