Red-Joss.com | Dalam pertumbuhan suatu gereja sampai sebesar sekarang ini, selalu ada jejak-jejak yang tidak terhapus oleh waktu dan perubahan. Orang-orang yang secara unik silih berganti membawa persembahan bagi gereja berupa buah pikiran, ketulusan hati, doa, keinginan untuk mengabdi, waktu, tenaga, sebagian hartanya, mungkin juga diwarnai sedikit keluh kesah dalam mengabdi. Semua itu menjadi satu bagian dengan rasa syukur dan keinginan untuk bersilih, seperti yang dilakukan oleh Mbah Maria seperti dalam kisah di bawah ini:
Mbah Maria, seorang nenek yang setiap bulan mendapatkan bantuan sejumlah uang dari gereja untuk meringankan beban hidupnya sehari-hari. Pada bulan April, hampir setahun yang lalu (2022) ia dipanggil Tuhan. Hal yang membuat semua warga lingkungan terharu adalah sebuah “wasiat” yang isinya adalah pesan agar simpanan dalam amplop (biru) yang isinya Rp 33. 223 (tiga puluh tiga ribu dua ratus dua puluh tiga rupiah) itu diserahkan ke gereja untuk persembahan.
Di tengah kemiskinannya itu, Mbah Maria mempunyai jiwa mempersembahkan yang luar biasa.
Persembahan Mbah Maria adalah silih atas besar-Nya kasih Tuhan padanya lewat gereja dan rasa syukur atas kerelaan Tuhan (ampunan), karena Mbah Maria selama ini merasa telah merepotkan orang lain.
Tidak ada waktu terlambat untuk berderma seperti Mbah Maria.
…
Jlitheng
…
Foto ilustrasi: Istimewa

