Waktu Tambahan dari Tuhan

Jawab orang itu: “Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah” (Luk 13: 8-9a).

Bayangkan Anda menanam pohon mangga. Setiap hari Anda menyiram dan merawatnya dengan penuh perhatian. Setelah bertahun-tahun, pohon itu tidak juga menghasilkan buah. Tentu muncul rasa kecewa dan keinginan untuk menebangnya agar tanahnya dapat digunakan untuk tanaman lain. Gambaran inilah yang digunakan Yesus dalam perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah. Pemilik kebun telah kehilangan kesabaran, tetapi pengurus kebun memohon agar pohon itu diberi kesempatan sekali lagi. Ia akan mencangkul tanah di sekitarnya dan memberinya pupuk agar dapat bertumbuh dan berbuah.

Melalui perumpamaan ini, kita diajak merenungkan dua hal penting.

  • Pertama: Ketika hidup kita belum menghasilkan buah kebaikan, Tuhan tidak serta-merta meninggalkan kita. Dengan penuh kasih, Ia memberi kesempatan untuk bertobat dan bertumbuh. Ia menyuburkan hidup kita melalui firman-Nya dan menegur kita agar kembali ke jalan yang benar.
  • Kedua: Kesempatan yang Tuhan berikan tidak berlangsung selamanya. Kesabaran Tuhan memang besar, tapi waktu hidup kita di dunia ini terbatas. Karena itu, kesempatan yang kita miliki hari ini bukanlah untuk menunda perubahan, melainkan untuk menghasilkan buah yang nyata dalam kehidupan.

Sr. M. Aloysie, P. Karm

Sabtu, 24 Oktober 2026
Ef 4: 7-16; Mzm 122: 1-5; Luk 13: 1-9

Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com