Api yang selalu Menyala di Bumi

Di sebuah sekolah dasar, murid-murid sangat takut dengan buli-membuli di antara para murid. Para Guru berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan kekerasan itu dengan pendampingan dan bimbingan yang itensif. Pada waktu pelajaran menggambar, Ibu guru meminta anak-anak untuk menggambar benda yang dipilihnya secara bebas. Marcela menggambar api yang menyala begitu besar dan menunjukkan itu kepada Gurunya. Di bagian bawah gambar itu tertulis: “Buli-membuli mati terbakar oleh api ini.” Ibu guru tersenyum bangga dengan niat baik muridnya itu.

Marcela dan kita semua ingin supaya api yang menyala di bumi harus memusnahkan apa saja yang merusak kehidupan kita. Tuhan Yesus juga pernah berkata tentang api yang Ia bawa ke dalam dunia supaya terjadi pembersihan terhadap yang jahat dan memberikan kesempatan kepada yang baik untuk tumbuh. Firman ini membuat para murid Yesus merasa tidak tahan lalu memilih meninggalkan Yesus. Tapi Petrus mewakili para rekannya memilih bertahan dan setia. Ia berkata: kepada siapa lagi kami harus pergi, Tuhan?

Kita juga memilih bertahan bersama Petrus. Buktinya kita semua tetap bersemangat dan menyanggupi seruan Petrus, bahkan semakin kuat pada saat ini, bahwa kita tidak bisa ke lain hati kecuali kepada Dia. “Kepada siapa lagi harus kita pergi?” Kira-kira begitu sikap kita semua bersama Petrus. Pilihan radikal dibuat juga oleh Paulus yang berkata kepada jemaat di Efesus untuk senantiasa berakar dan beralas dalam kasih Kristus. Santo Paulus mendoakan mereka supaya kuat, karena perpecahan itu akan selalu terjadi di dalam Gereja.

Pilihan ini bukan tanpa banyak risiko. Yang paling kentara ialah kuasa dan pengaruh Yesus Kristus bagai api menyala yang tidak bisa padam. Api menyala itu tanda memberikan terang untuk menghalau kegelapan, tapi juga membakar supaya menghanguskan bagian-bagian yang tidak berguna atau yang tidak dibutuhkan. Maksudnya, mereka yang tidak sejalan dengan Tuhan akan lenyap, lalu yang bersama dengan Tuhan akan menetap.

Di zaman Kristus dan Gereja perdana, pemisahan ini sangat jelas. Gara-gara kuasa Kristus, sebagian anggota keluarga memilih mengikuti Yesus, sebagian lain menolak dan melawannya. Saat ini, pengaruh duniawi dan kedagingan, membuat polarisasi antara mereka yang setia dan tidak setia mengikuti Yesus Kristus. Kalau ingin agar mereka yang tidak setia dapat kembali menjadi setia, kita masing-masing dapat mengambil ini sebagai suatu tanggung jawab bersama, paling kurang menjadikan setia sesama di sekitar kita.

“Bapa di Surga, pandanglah dan berkatilah kami yang rapuh ini dengan semangat untuk bertahan dalam kesetiaan kepada-Mu. Kami yang rapuh ini sangat membutuhkan campur tangan-Mu. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)