Konsistensi sebagai Hamba

Seorang murid SD berhasil memperbaiki nilai-nilai merahnya menjadi bagus. Selama upaya perbaikan itu, Ibu dan Bapaknya ikut berperan mendampinginya belajar. Sadar akan tanggung jawab tersebut, suami-istri itu mulai terlihat kurang bertengkar. Ketika terbukti nilai rapor anak berubah menjadi bagus, pertengkaran Ibu dan Bapak itu semakin menghilang. Mereka berubah menjadi rukun dan saling mengerti.
Pada saat mereka bertiga sedang makan bersama, anak itu berujar: “Aku ingin tetap mempunya nilai bagus, aku harus belajar rajin. Papa dan Mama juga harus tetap rukun, tidak boleh bertengkar lagi.” Anak itu bukan membuat sebuah pernyataan, tapi justru memberikan sebuah nasihat. Ia mengingatkan dirinya sendiri, orang tuanya, dan kita, bahwa mempertahankan yang sudah baik dan bagus adalah sikap terpuji. Ia ingin supaya sikap konsisten menjadi pilihan terbaik bagi kita semua yang ingin menjadi setia dalam mengikuti panggilan kita.
Bagi kita yang adalah pengikut Kristus dan anggota Gereja yang kudus, pengalaman kita akan konsistensi Tuhan terhadap kita tidak bisa diragukan. Ia setia dalam segala hal. Kita diingatkan tentang kesetiaan Tuhan menemani, menyertai, dan melindungi kita. Betapa kita sebagai para utusan Kristus yang hidup di tengah-tengah serigala, di mana ancaman godaan dan serangan musuh datang di setiap waktu yang tidak diduga.
Santo Paulus mengingatkan tentang ancaman perpecahan di antara umat Allah, anggota-anggota Gereja, sangatlah nyata. Perbedaan pandangan dan persaingan atas nama nafsu duniawi itu selalu memicu terjadinya perpecahan di antara saudara dan sahabat. Sikap Kristen yang konsisten ialah mempertahankan persekutuan di antara para pengikut Kristus dan anggota Gereja. Konsistensi relasi itu memperlihatkan, bagaimana kita setia kepada Tuhan yang memanggil dan mengutus kita. Misalnya setia sebagai seorang anak di dalam keluarga, merupakan bentuk ketaatan kepada Tuhan yang telah menjadikan seorang anak bagi orang tua dan keluarganya.
Tuhan Yesus memberikan perumpamaan sosok seorang hamba yang harus konsisten akan tugasnya untuk berjaga-jaga terhadap kedatangan Tuannya. Hal ini bermaksud mengajarkan kita untuk menyiapkan diri dalam kondisi apa pun, ketika Tuhan menyatakan kehendak-Nya kepada kita. Tuhan konsisten untuk datang kepada kita dengan segala berkat dan campur tangan-Nya dalam hidup ini agar kita juga konsisten untuk menerima dan menyanggupi kehendak-Nya.
“Ya, Tuhan, jadikanlah kami hamba-hamba yang setia dalam menyambut kedatangan-Mu. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.