Refleksi Filosofis:
Tiada Rotan, Akar pun Berguna

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Ia tumbuh sebagai taruk di hadapan Tuhan dan sebagai akar dari tanah kering”
(Yesaya 53: 2)

Inilah sebuah adagium Melayu yang tergolong sebagai filsafat duka khas Nusantara.

Mari kita kupas tuntas tidak hanya sebagai sebuah peribahasa, tapi juga sebagai sebuah jalan rohani.

  1. Filsafat Asal: Manusia yang Menolak Mengeluh

Filsafat modern mengajarkan kita, jika tak ada rotan, maka kita pun harus protes, berdemo sampai mendapatkan rotan.

Maka, orang-orang mulai adakan mogok masal demi melampiaskan kemarahan, karena ketiadaan rotan.

Dalam budaya Melayu, jika tidak ada rotan, toh masih ada akar. Hal ini justru mau membuktikan, bahwa Nenek moyang kita tidak memiliki filsafat pasrah, tapi justru filsafat daya cipta, filsafat kreativitas.

Filsafat itu mau berkata, bahwa hidup tidak berhenti karena yang ideal tidak ada. Hidup akan terus menganyam dengan bahan apa saja yang ada.

  1. Refleksi Rohani: Problema kita

Saya sangat yakin, bahwa dalam kehidupan ini pasti ada sosok atau figur ideal yang patut kita hargai. Figur serupa inilah yang akan terus menganyam hidup kita dengan apa adanya.

Suara Tuhan selalu akan hadir tepat pada waktunya. Ia akan berbisik padamu, “Nak, jika tak ada rotan, maka akar pun berguna.”

Tuhan tidak memintamu untuk melupakan rotan itu. Tidak.

Tuhan memintamu untuk menundukkan, menatap tanah, tempat sang arifin pernah berpijak dan menemukan, bahwa di sana masih ada akar.

Ya, itulah akar-akar dari:

  • Akar doa dari para pendahulu kita.
  • Akar dari nilai kesabaran mereka.
  • Akar dari pergulatan manusia di tengah masyarakat.

Ya, rotan sudah diangkat ke Surga. Tapi yakinlah, bahwa akarnya masih tertinggal di bumi dan di dalam dirimu.

  1. Puncak Filsafat: Kristus Sang Akar

Dunia edan ini pernah menduga, bahwa Yesus datang sebagai ‘rotan’, sebagai Raja, nan Agung. Padahal Kristus datang hanya berupa ‘akar’.
“Ia tumbuh sebagai taruk di hadapan Tuhan dan sebagai akar dari tanah kering” (Yesaya 53: 2).

Ketahuilah, bahwa salib itu bukanlah rotan, melainkan akar pohon yang dipotong, kasar, dan berdarah.

Bukankah justru dari akar itulah Gereja pun dianyam?

Tuhan kita, ternyata tidak pernah menganyam dengan rotan tapi dengan akar.

Bukankah dengan akar dosa Paulus pun menganyam Rasul?

Dengan air mata Magdalena, Ia menganyam pewarta Paulus pertama.

Ingat, di tangan Penganyam nan Agung, tiada akar yang sia-sia!

Kediri, 20 Oktober 2026