Berdoa Tanpa Jemu, Jalan Tol menuju Hidup Bahagia

“Aku adalah milik-Mu, dan milik-Mu adalah milik-Ku.”

Bagian dari doa syafaat Yesus kepada Bapa-Nya (Yoh 17: 10) sebelum disalibkan itu sungguh menginspirasi dan memotivasi saya dalam mensyukuri dan menjalani hidup ini dengan sepenuh hati.

Hati saya juga semakin diteguhkan, ketika doa syafaat itu saya kaitkan dengan perumpamaan anak yang hilang (Luk 15: 31): “Anakku, engkau selalu bersama-Ku, dan segala milik-Ku adalah milikmu.”

Jika kita diibaratkan anak yang hilang, lalu ditemukan kembali dan disambut Bapa dengan sukacita serta dirayakan dengan pesta nan meriah, apalagi sebagai anak yang penurut dan selalu bersama-Nya. Tidak seharusnya saya dan Anda iri hati atau dengki kepadanya. Tapi bersyukur dan berbahagia seperti Bapa.

Penegasan Bapa lewat Luk 15: 31 itu menjadi pengalaman iman nan dahsyat dalam hidup saya. Ketika doa lebih sekadar meminta berkat atau pemenuhan kebutuhan. Tapi doa sebagai sarana membangun relasi, menyelaraskan kehendak, dan berkomunikasi intim dengan Allah.

Sejatinya, ketika kita percaya dan mengimani Allah sepenuh hati dan totalitas, maka anugerah-Nya luar biasa. Intimasi kasih nan erat itu adalah jalan tol yang membawa kita menuju hidup yang semakin baik, damai sejahtera, dan bahagia.

Mas Redjo

Tinggalkan Balasan