Refleksi Filosofis:
Pada Lentik Jemari Dinding Sadarku

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tuhan, mengapa baru pada saat jemariku melentik menahan tangis dan dinding sadarku retak, aku baru benar-benar sadar, siapakah aku ini?”
(Suara Sang Kebenaran)
Ini adalah sebuah statemen yang sangat indah, sekaligus sangat menyakitkan.
Lentik Jemari di Dinding Sadar
Marilah Kita Bedah ibarat Membedah Sepotong Doa!
- Lentik Jemari
Pernahkan letik jemari itu berbohong? Ingatlah, bahwa otak di kepala ini doyan menipu dan mulut berbisa itu pun suka mendusta, tapi tidak untuk jemari ini.
Jika ada berita apa saja, lentik jemarilah yang lebih dulu mengetahuinya. Ia pun menahan getaran hatinya sambil memegang ujung kafan dan menggenggam butir-butir Rosario. Bahkan sebuah kenangan silam pun sanggup digenggam, walaupun sudah terurai laksana butiran pasir.
Tentu, Anda pun saya masih juga ingat lentik jemari Bunda atau pun saudara kita. Ya, jemari itulah yang menyisir rambut di ubun ini, dan juga yang membelai di kala aku sedang sekarat.
- Dinding
Kata ‘dinding’ itu sungguh menggerinding dan bahkan paling mengerikan.
Sadar kita ternyata mempunyai dinding. Bukankah dalam hidup ini, kita juga membangun dinding dan kebiasaan serta harga diri, juga lewat logika kita. Pesan Kakek, bahwa “Anak lelaki itu haruslah kuat dan pantang menangis.”
Ya, nyatanya setiap hari kita telah menemboki dinding dengan keras, prestasi, dan aneka kesibukan agar kita tidak kesepian.
Kita menduga, bahwa dinding itulah yang melindungi kita, tapi ternyata, ia justru jadi terali penjara bagi kita.
Dinding itu baru bisa retak dan bahkan jebol di kala ada duka yang menggayuti hati kita.
“Breakdown,” kata manusia modern, itulah ‘keretakan.’ Tapi si bijaksanawan menyebutnya “Breakthrough,” dinding sadar yang meretak agar berkas cahaya dapat masuk.
- Sadarku
‘Sadarku’ inilah menara alias puncaknya. Betapa dasyatnya kesadaran itu, yang bahkan oleh para mistikus disebut sebagai ‘rasa sejati.’
Sebuah Pertanyaan yang Menggugat!
“Tuhan, mengapa baru pada saat jemariku melentik menahan tangis dan dinding sadarku retak, aku baru benar-benar sadar, bahwa siapakah aku ini?”
Oh ya, hal ini dapat terjadi, karena Tuhan tidak pernah mau berbicara keras-keras di ruangan yang ramai.
Dia hanya mau berbisik di ruangan yang dindingnya baru saja retak.
Tuhan, biarkan jemari itu lentik dan dinding itu retak.
Karena di sanalah sepotong doa menjadi daging.
Kediri, 18 Oktober 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.