Refleksi Filosofis-Antropologis:
Tuhan, Aku Harus Berdiri di Mana?

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Jangan berdiri di atas masa lalumu, jangan juga berdiri di atas masa depanmu yang belum pasti.”
(Suara Sang Kebenaran)

Mari Kita Renungkan Bersama dalam Tiga Lapis

  1. Manusia Modern tidak Miliki Tempat Berdiri

“Berilah aku satu titik tumpu, agar aku bisa tegak berdiri. Maka, aku akan mengungkit dunia ini,” demikian seruan filsuf Archimedes sejak 2000 tahun silam.

Mengapa dan bagaimanakah maknanya?

Ya, bukankah manusia modern memang tidak mempunyai tempat tumpuan di atas bumi maya ini? Mengapa? Ya, karena:

  • Manusia modern telah berdiri di atas jabatan, tapi kala jabatan rapuh itu pun dicopot, maka manusia itu akan terpental dan jatuh.
  • Manusia modern telah berdiri di atas tumpukan harta, tapi kala harta itu habis, maka manusia itu akan jatuh miskin.
  • Manusia modern telah berdiri di atas pundak orang yang dia cintai, tapi kala orang itu jatuh bangkrut atau berpulang, maka akan hancurlah ia.

Lalu kita ini harus berdiri di mana?

Nah, inilah yang dinamakan ‘krisis antropologis.’ Dalam konteks yang spesial ini, Anda tidak perlu mencari tempat yang terlampau ‘tinggi dan megah.’ Ya, cukuplah Anda berdiri di atas pondasi kesadaran sejati, bahwa Anda hanyalah manusia lemah.

Ketika Anda berdiri di atas kelemahan sendiri, atau di atas tetesan derai air mata, nah justru di situlah Tuhan bisa bekerja bagimu.

  1. Bagaimanakah Jawaban Kitab Suci? Ya, jawabannya bahwa “berdirilah di atas Tanah Kudus!”

“Tanggalkan kasutmu, sebab tempat di mana engkau berdiri itu adalah tanah yang kudus.” (Keluaran 3: 5). Nah, itulah seruan Tuhan kepada Musa.

Amanat suci itu bermakna, bahwa Anda harus menanggalkan kasut kesombongan, bahwa Anda harus kuat dan berdiri di sana dengan telanjang kaki serta dengan derai air matamu.

Di tempat itulah Tuhan kembali bersabda seperti yang pernah Ia sabdakan kepada Musa.

Jadi, akhirnya “Tuhan, aku harus berdiri di mana?”

Jawabannya, “Janganlah Anda berdiri di atas masa lalumu dan jangan pula di masa depan yang belum pasti.”

Ya, berdirilah saja di atas tanah yang kudus. Di atas duka yang mengalir jujur dari hati ini, dan di atas kasih yang tersisa.

Nah, di situlah satu-satunya tempat yang tidak akan pernah Anda goyah!

Kediri, 17 Oktober 2026