Mencium Debu Tanah
Mosaik Serpihan Kelana -75
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores

Musibah itu meruntuhkan menara kepongahanku
Wajahku membentur tanah dan dilumuri debu
Bibirku pecah berdarah dan beberapa gigi berpindah di antara kerikil jalanan
Jejak kelana menulis kisah sedih pilu
agar pikiran menyadari rapuhnya raga fana
yang setiap saat menginjak debu tanah dan dijamin kebutuhan dari bumi ini
Karena terbiasa dimanjakan bumi tanah dengan menjamin kebutuhan hidup
maka pikiran mengabaikan kesadaran hakikat diri
Kesombongan membangun menara megah
Kepongahan menjadi sayap untuk terbang ke puncak angkasa
Ungkapan terima kasih dan syukur diabaikan
seperti debu tanah yang selalu diinjak dan sampah yang dihindari
Pengalaman musibah membuka nalar merajut kesadaran
Perjuangan menata pikiran kembali dilakukan
Mata tidak hanya menatap angkasa
tetapi kembali membiasakan pandangan ke telapak kaki
agar mau sujud mencium debu tanah
agar mau berlutut menghaturkan syukur
“Aku terima gratis setiap hari 24 jam
artinya mendapat 1440 menit berkah
Berapa menit kupakai untuk berterima kasih
berapa waktu yang kusiapkan untuk haturkan syukur”
Kesadaran itu menjadi cermin tanya bagi diri
di tengah hingar bingar sepak terjang keseharian
Teringat masa kecil di kampung halaman
kisah memori bersahabat dengan debu tanah
Orangtua memberi kesempatan ditimang debu
lalu sering lidah mencecap tanah dan gigi mengunyah kerikil
Tak ada kecemasan tentang kotor dan masalah
Bahkan sering tertidur nyenyak di tanah tanpa tikar dan alas kepala
Masih terngiang ajaran para guru
“Manusia pertama tercipta dari debu tanah
lalu dihembuskan nafas Sang Ilahi
agar hidup dan beranak pinak memenuhi bumi ini”
Tanpa bumi tanah ini memberi dukungan
maka semua manusia pasti mati dan punah
Tetapi tanpa manusia, bumi alam ini tetap lestari harmoni
Ketika debu tanah ditiup angin dan mencakar bola mata
ternyata keangkuhan pribadi bisa runtuh
karena penglihatan sungguh terganggu bagi aktivitas kehidupan
Mata adalah jendela jiwa dan pintu raga
tetapi sering abaikan debu tanah tempat pijak telapak
Saat hidung tersumbat debu tanah
rupanya keseimbangan jiwa raga lumpuh
bahkan terancam akan mati tak berdaya
karena aktivitas pernafasan sungguh terganggu
Ketika sadar untuk mencium debu
saat nalar waras sujud memeluk tanah
Aku kembali diingatkan hakikat diri
Aku ini berasal dari debu tanah
Aku mutlak tergantung pada alam bumi ini
Aku pasti mati dan kembali ke debu tanah
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.