Refleksi Filosofis:Di Bawah Teduh Payung Keabadian

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tuhan, Engkaulah tempat berteduh kami turun-temurun”
(Mazmur 90)
Sejatinya bukankah dunia dan kehidupan ini, justru sedang diguyuri oleh hujan deras?
Ya, secara filosofis, bahwa dunia kita ini adalah hujan itu. Hujan yang sedang mengguyuri kehidupan umat manusia.
Hujan-hujan Apa Sajakah itu?
- (1) hujan masalah,
- (2) hujan aneka tuntutan hidup,
- (3) hujan ambisi,
- (4) hujan komentar miring,
- (5) hujan persaingan, dan
- (6) seribu satu macam hujan lainnya.
Ya, sadarlah, bahwa Anda pasti sedang berteduh di bawah setangkai payung harta, bukan? Yang sepintas tampaknya aman, tapi ternyata tiris, karena bocor.
Sadarkah, bahwa Anda sedang berteduh di bawah setangkai payung kesehatan dan kekuatan Anda? Sehingga Anda tampak kokoh, tapi sejatinya justru rapuh.
Sadarlah, karena di dunia ini hanya tersedia payung-payung kertas, yang tampaknya indah dan sempurna di atas selembar foto, tapi sesungguhnya rapuh, jika diterjang badai?
Ternyata hanya ada setangkai payung yang utuh, kokoh, dan tidak bocor? Ya, itulah “payung keabadian.”
“Tuhan, Engkaulah tempat berteduh kami turun-temurun”
(Mazmur 90).
Anda justru sedang berteduh di bawah naungan setangkai payung keabadian, ketika Anda sungguh sadar: bahwa usia hidupmu bukan hanya 70 tahun, tapi justru selamanya, jika Anda bersama dalam Tuhan.
Jika memang demikian, masalah hidupmu itu hanyalah ibarat gerimis rintik kecil, jika dibandingkan dengan kemarau abadi yang bergelimang cahaya itu.
Ciri-cirinya, jika Anda Sungguh Bernaung di Bawah Teduh Setangkai Payung Keabadian:
- Anda akan bersikap sangat tenang, karena Anda tahu, bahwa hujan pun akan berhenti.
- Anda tidak akan bersikap rakus, karena Anda tahu, tidak selamanya akan berada di bawah rintikan hujan, dan bukankah Anda hanya numpang lewat?
- Anda akan bersikap murah hati, karena Anda tahu, bahwa payungmu cukup lebar untuk bisa menaungi orang lain juga.
- Belajar Berteduh, Bukan Berlari
Problema utama umat manusia ialah, karena kita sibuk mencari setangkai payung baru, hingga lupa untuk berteduh.
“Urip iku mung numpang ngombe.”
Maka, betistirahatlah dengan santai di bawah setangkai teduh payung keabadian itu. Karena itulah yang disebut “kasih Tuhan yang tak kenal habis.”
Apa yang utama dan pertama? Bukanlah setangkai payung yang membuat kita tidak kehujanan, tapi setangkai payung yang membuat kita tidak pernah takut lagi akan hujan.
Kediri, 12 Oktober 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.