Iman Sejati Tidak Mencari Tanda

“Mereka menghendaki suatu tanda, tapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus” (Luk 11: 29b).
Yesus menegur orang banyak yang terus-menerus meminta tanda-tanda luar biasa sebagai dasar untuk percaya. Mereka menginginkan mukjizat, tapi hati mereka belum sungguh terbuka untuk menerima kehendak Allah. Karena itu, Yesus mengingatkan mereka akan Nabi Yunus yang diutus untuk mewartakan pertobatan kepada penduduk Niniwe. Menariknya, orang-orang Niniwe mau bertobat hanya melalui pewartaan yang sederhana. Sebaliknya, banyak orang pada zaman Yesus tetap mengeraskan hati, meskipun mereka menyaksikan karya-karya Allah secara langsung.
Sering kali, sikap yang sama juga muncul dalam hidup kita. Kita menuntut tanda, jawaban yang segera, atau mukjizat yang besar sebelum mau percaya dan taat kepada Tuhan. Padahal, Tuhan telah berbicara kepada kita melalui berbagai cara yang sederhana: melalui Sabda-Nya, keluarga, Gereja, maupun pengalaman-pengalaman sehari-hari yang kita alami.
Mita diajak untuk memiliki hati yang peka dan rendah hati. Iman yang sejati tidak tergantung pada tanda-tanda luar biasa, melainkan belajar mengenali kehadiran Tuhan dalam setiap peristiwa kehidupan.
Semoga kita berani menanggapi-Nya dengan hati yang terbuka dan penuh kepercayaan.
Sr. Victoria Marie, P. Karm
Senin, 12 Oktober 2026
Gal 4: 22-24.26-27.31-5:1; Mzm 113: 1-7 Luk 11: 29-32
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.