Kudus

“Identitas sejati manusia adalah menjadi kudus.” -Rio, Scj.

Yang saleh bisa salah, yang salah bisa saleh. Lalu siapa yang salah, yang salah adalah, ketika seseorang salah merasa saleh dan yang saleh tidak pernah merasa salah. Kadang ahli maksiat dan penjahat lebih mengenal Tuhannya melalui tobat dan rasa hinanya. Sementara yang suci dan ahli Kitab Suci dan Teologi tanpa disadari telah menyembah dirinya sendiri. Merasa sudah ahli dan merasa paling baik dari yang lain.

Nyatanya di rumah sakit lebih banyak terucap doa, daripada di tempat ibadah. Di bandara lebih banyak pelukan daripada di pernikahan. Di kuburan lebih banyak taburan bunga daripada di taman. Karena kenyataannya manusia hanya akan dihargai, ketika dia pergi. Diingat dan dihargai sebentar lalu dilupakan.

Kita sering kali terlalu sibuk mencari yang belum ada, sampai lupa merawat yang sudah ada. Keinginan kadang lebih utama dari kebutuhan. Orang rela membayar ratusan juta demi gaya dan keinginan, sementara pelit untuk kesehatan dan kebutuhan. Jangan tunggu raga menjadi kenangan untuk mulai peduli. Peluk mereka hari ini, selagi waktu masih memberi kesempatan.

Suci itu bukan nanti, tapi saat ini. Selagi ada waktu dan Tuhan memberi kehidupan jangan pernah disia-siakan. Tidak perlu menunggu besar, mulai saja sekarang dari hal kecil dan sederhana. Mulai saja tidak perlu ditunda.

Deo gratias.

Rm RP Rio, Scj