Refleksi Filosofis:Makna Tangan-tangan Terkepal

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Manusia, di saat ia dilahirkan, tangannya terkepal, karena ia ingin memiliki segalanya. Di saat wafat, ia pun tetap mengepalkan tangannya, karena ia tak ingin melepaskan Tuhannya.”
(Kerinduan Semesta)
Jika kita ingin merefleksi filosofi dari ‘tangan-tangan terkepal,’ maka sejatinya, terdapat ‘tiga macam’ tangan-tangan terkepal itu.
- Tangan Terkepal Bayi yang Baru Dilahirkan
Setiap bayi yang baru dilahirkan ke atas dunia, tangannya selalu dalam kondisi erat terkepal. Itulah simbol, bahwa manusia, ketika turun ke bumi ia membawa genggaman, sebuah naluri alam untuk memiliki dan meraih sesuatu. Selain itu bermakna, bahwa manusia juga ingin menggenggam dunia ini (ia ingin berkuasa).
Seperti juga ucapan Santo Agustinus, “Manusia, di saat ia datang ke dunia, tangannya terkepal. Ketika ia pulang ke tempat asalnya, tangannya justru terbuka.” Ya, karena pada akhirnya manusia itu akan melepaskan genggaman eratnya.
- Tangan Terkepal yang Bersifat Memberontak
Lihatlah pula pada tangan seseorang yang sedang marah. Itulah isyarat akan memukul, karena ia merasa, bahwa dirinyalah yang paling benar. Ingatlah kembali pada tangan-tangan ganas Kail di saat ia membunuh Habel, saudaranya.
- Tangan Terkepal dari Para Pekerja Keras
Inilah sebuah refleksi yang paling bermakna bagi hidup dan karya kita.
Mari, tiliklah pada tangan seorang pekerja sejati yang terkepal erat di kala ia:
- Memegang Palu: Inilah sebuah kepalan tangan yang paling kuat dan erat, yang bermakna ‘ora et labora.’ Ya, di kala ia membanting tulang demi sesuap nasi.
- Memegang Erat Tangan Kekasih: Inilah model tangan yang kuat melindungi. Ia rela mengepalkan tangan-tangan perkasanya demi melindungi mereka yang sangat dikasihnya.
- Tangan Terkepal yang Sedang Berdoa: Lihatlah pada jemari tangan para pendoa sejati. Dalam konteks ini, niatnya justru ingin menggenggam erat daun-daun Surga suci. Hal ini bermakna pula ia sudah tidak ingin menggenggam dunia, tapi ia justru telah terpesona pada salib.
Refleksi Penutup
Sejatinya, bahwa “Manusia di kala ia dilahirkan ke bumi ini, tanganya justru terkepal. Hal ini bermakna, bahwa ia sangat ingin untuk memiliki segala-galanya. Demikian juga di kala wafatnya, tangannya akan tetap terkatup erat. Hal ini mau menunjukkan, bahwa ia tidak sudi untuk melepaskan Tuhannya.
Kediri, 9 Oktober 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.