Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com | Negeri kita, si molek jelita, Indonesia Raya, dikenal sebagai sebuah bangsa berbudaya, antara lain, karena kita memiliki sebuah tradisi, merawat “seni topeng.”
Apa sesungguhnya makna denotatif dari kata “topeng?” Bahan atau alat yang dibentuk dari kayu, biasanya menyerupai wajah manusia atau binatang yang mewakili sebuah katakter.
Tulisan ini, akan difokuskan kepada pemahaman serta makna ‘konotatif’, “berwajah topeng.”
“Berwajah topeng” secara kias, bermakna seseorang yang berpura-pura seperti atau menyerupai orang lain.
Dalam konteks ini, makna ungkapan “berwajah topeng” berkorelasi juga dengan ideomatik, ‘bermuka dua’, yang bermakna tidak sesuai antara kata dan perbuatan (munafik).
Dalam harian Kompas, Selasa, 14 Maret 2023,
A. Ahsin Thohari, Dosen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum UPN Veteran Jakarta, menulis sebuah opini berjudul, “Badut Keadilan.”
Beliau menyinggung soal putusan PPN Jakarta Pusat, hal penundaan pemilu yang menurutnya, menyesatkan, irasional, menghina akal sehat. “Ada tangan-tangan tak tampak.” Pada titik ini, pengadilan telah bermetamorfosis dari benteng terakhir keadilan menjadi “badut” keadilan yang tidak lucu. (Homo homini lupus) “Manusia, menjadi serigala bagi sesama.”
Seraut wajah bertopeng, bermaknakan, sirnanya sebuah sikap otentik di dalam karakter sang manusia sejati. Maka, sang manusia itu cenderung akan menampilkan sebuah dagelan di dalam hidup bermasyarakat.
Hilanglah sikap serta kata-kata dan tindakan sejati di dalam sebuah organisasi, di dalam ajang perpolitikan, beragama, dan bahkan juga di dalam bernegara.
Maka, yang tampak ke pemukaan hidup kita, hanyalah sebuah ilusi, kepalsuan, sikap semu alias bunglon belaka.
Laksana fenomena gunung es, yang tampak ke permukaan laut hanya 1 persennya, sedangkan yang ke-99 persennya, justru terbenam di dasar samudera.
Saudaraku, kita ternyata seolah hidup hanya di dalam alam segurat mimpi-mimpi panjang. Hal ini, bermakna, bahwa kita hidup di dalam alam kemunafikan. Tidak ada lagi kebenaran dan kesejatian yang berkeliaran di antara kita. Dan kita akan selalu bersikap berhati-hati terhadap sesama. Kita selalu takut bertindak salah dan takut terjebak di dalamnya. Ini, suasana kehidupan yang jauh dari ideal.
Saudaraku, dari mana datangnya seraut wajah bertopeng di antara kita?
Mari, masukilah dan bertanyalah kepada nurani kita sendiri. Akukah, diakah, kaukah, kitakah, atau merekakah?
Yakinlah saudaraku. Pertanyaan ini tak akan ada sahutannya.
Bersikaplah tulus, jujur, sederhana, serta rendah hati. Di sanalah, sumber Sang Kebenaran menunggumu!
Janganlah kita bersikap seperti Tuhan!
(erare human est)
...
Kediri, 15 Maret 2023

