Jalan Kekudusan

“Sejatinya hidup yang terberi itu untuk memberi agar harmoni dan bahagia.” -Mas Redjo
“Lahir suci, kita pun kembali kepada Sang Pemberi seharusnya juga dalam keadaan suci.”
Kredo kehidupan itu tidak sekadar slogan, tapi harus dihidupi dengan sadar diri dan semangat juang agar hidup kita bermakna dan berkenan bagi Tuhan.
Titik balik perubahan menuju hidup yang makin baik itu bermula, ketika SMA saya dibaptis, “Bukan karena kau yang memilih Aku, melainkan Akulah yang memilihmu” (Yoh 15: 16).
Pengalaman iman yang lain adalah, cerita dari seorang tetangga, bahwa “Semasih bayi saya nyaris meninggal, ketika tempat usaha orangtua kebakaran. Saking panik, Ibu membawa guling yang dikira adalah saya. Beruntung, Bapak tetangga sebelah toko itu sigap untuk menyelamatkan saya.”
Saya selamat dari kebakaran dan dibaptis adalah karunia kasih Allah yang luar biasa. Dua peristiwa iman itu adalah penyemangat agar saya berjiwa optimistis untuk perbarui hidup ini.
Untuk mewujudkan hidup baru dan menjadi pribadi yang baik, saya tidak mempunyai ambisi muluk-muluk, hebat, dan wow. Prioritas utama dan pertama saya adalah, hidup seturut kehendak Tuhan. Karena telah diselamatkan-Nya, saya tidak ingin mengecewakan-Nya.
Caranya, saya belajar untuk hidup kudus. Saya meneladani hidup St Theresia, bahwa jalan kekudusan itu tidak harus dicapai melalui hal-hal yang hebat dan spektakuler, tapi melalui hal-hal kecil dengan kasih yang besar.
Saya juga terinspirasi dengan semangat pelayanan kasih dan perjuangan Yohanes Pembaptis yang berteriak-teriak di padang gurun untuk menghidupi Firman Tuhan agar menjadi nyata.
“Dia harus semakin besar, tapi aku harus makin kecil” (Yoh 3: 30).
Sejatinya hidup kekudusan itu dapat dicapai, ketika kita melayani sesama dengan rendah hati, tulus, dan ikhlas.
Mas Redjo
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.