Pintu Diketuk dari Dalam

Sering dipahami, bahwa doa ialah cara kita mengetuk pintu hati Tuhan supaya memperhatikan keadaan kita. Tapi sebenarnya ialah, Tuhan yang pertama mengetuk pintu hati kita, lalu kita menjadi sadar akan keadaan yang sebenarnya dan beranjak meminta pertolongan-Nya.

Ia mengetuk pintu hati kita supaya mengetahui keadaan diri ini, lalu kita yang harus mengetuk pintu hati Allah. Jika mengetuk pintu Tuhan seperti yang diamanatkan Injil, kita biasa melakukannya. Permohonan dan ujud doa atau persembahan, kita sampaikan kepada-Nya yang didahului oleh sapaan atau seruan nama-Nya yang suci sebagai tanda meminta perhatian. Itu adalah cara yang lazim kita mengetuk pintu Tuhan.

Sejatinya ada hal yang tidak biasa dan sangat perlu kita benahi. Sering Tuhan mengetuk pintu hati dan pintu keluarga kita. Tapi kita mungkin bersikap seperti Tuan rumah yang di tengah malam, pintu rumah yang tertutup, tidur bersama keluarga, dan tidak ingin bangun membukakan pintu. Malas, bosan, malu, takut, dan menolak membukakan pintu adalah sikap yang sering kita tunjukkan. Ada sejumlah besar orang menolak ketukan pintu dan ajakan untuk menghadiri Ekaristi pada hari Minggu dan hari raya. Ada banyak orang tidak menghiraukan ketukan pintu untuk setia mendengarkan dan merenungkan firman Tuhan. Ada begitu banyak orang yang sengaja menyangkal ketukan pintu untuk memilih kebenaran, tapi cenderung kepada penyebaran berita-berita bohong melalui media sosial. Masih banyak contoh lainnya.

Padahal undangan dan ajakan Tuhan ini merupakan pilihan yang lebih baik untuk dapat mengalami kemuliaan dan kebesaran-Nya yang terungkap dalam tanda-tanda nyata kehidupan. Berdoa, berkorban, beramal, berbela rasa, dan berbuat kasih adalah maksud-maksud undangan itu. Adalah lebih tepat untuk mengetuk pintu rumah dan hati manusia dari dalam. Maksudnya ialah, karena seruan dan desakannya lebih kuat sehingga membangunkan dan menyadarkan orang-orang yang sengaja menutup pintu-pintu mereka dengan kuat. Tuhan berperan mengetuk pintu kita dari dalam, tapi juga kita sendiri yang mesti melakukan itu.

Pemeriksaan batin yang rutin, pengakuan dosa yang reguler dan bimbingan rohani yang teratur merupakan cara-cara mengalami, bagaimana pintu kita diketuk dari dalam. Melalui itu semua, kita dapat terbangun dari tidur kita yang sering mengada-ada, supaya bisa beraktualisasi diri lebih baik lagi sebagai pengikut Kristus.

“Bapa yang di Surga, kurniakanlah kami agar memiliki hati yang selalu lembut dan terbuka untuk semua kebaikan dan kebenaran yang tercurah melalui firman-Mu. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)