Saat Doa Menjadi Tempat Pulang

“Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya” (Luk 11: 1b).

Banyak orang berdoa setiap hari, tapi hatinya terasa jauh dari Tuhan. Bibir mengucapkan doa, sementara pikiran dan hati mudah melayang ke berbagai hal: kelelahan, kekhawatiran, luka lama, dan persoalan yang belum terselesaikan. Manusia modern terbiasa berbicara, tapi perlahan kehilangan ruang untuk berdiam tenang di hadapan Allah. Karena itu, permohonan para murid, “Tuhan, ajarlah kami berdoa,” menjadi sangat mendalam. Mereka melihat, bahwa Yesus tidak menjadikan doa sebagai pelarian atau sekadar tempat mencari mukjizat. Ia hidup dalam relasi yang intim dengan Bapa. Dari kedekatan itu lahir kekuatan, kejernihan, dan kasih yang terarah.

Doa yang diajarkan Yesus bukan pertama-tama tentang banyaknya permohonan, melainkan tentang hidup sebagai anak yang percaya, bahwa dirinya sungguh diterima oleh Bapa. Dalam doa, manusia diajak untuk tinggal dalam kasih Allah dan menemukan kembali arah hidupnya.

Barangkali, kemiskinan terdalam manusia bukanlah kekurangan materi, melainkan kehilangan ‘rumah batin’ untuk kembali kepada Allah. Dalam pengertian ini, doa adalah jalan pulang ke tempat di mana hati kembali beristirahat di dalam Tuhan.

Fr. Laurensius Maria, CSE

Rabu, 07 Oktober 2026
Gal 2: 1-2.7-14 Mzm 117: 1-2 Luk 11: 1-4

Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com