Karena Pernyataan Kristus

Maria, Ibu rumah tangga dari dua anak. Ia seorang Katolik yang baru dibaptis setahun lalu. Suaminya, Mario menjadi panganut Katolik sejak bayi. Menyadari, bahwa kedua anaknya dibina dan dibesarkan secara Katolik, Maria berusaha maju dalam keyakinan iman Katolik. Dalam setahun sebagai Katolik, prinsip yang ia pegang ialah “karena pernyataan Kristus.”

Kristus telah menyatakan diri-Nya sebagai Putra yang datang dari Bapa, dan memanggil semua orang untuk mengambil bagian dalam tugas pertutusan-Nya. Maria mengikuti panggilan itu, meski saat menikah belum dibaptis. Ia sungguh menyadari pernyataan Yesus. Sehingga ia membulatkan tekatnya untuk dibaptis dan demi membesarkan anak-anaknya sebagai orang Katolik yang baik.

Ironisnya, Mario suaminya agak mundur dalam ketekunan iman. Ia selalu diingatkan istrinya, karena lupa berdoa, malas mengikuti Misa kudus hari Minggu, dan jarang aktif dalam kegiatan Gereja. Biasanya alasan kerja itu yang selalu menghalanginya. Maria sendiri menyebutnya begini: Yesus menyatakan diri-Nya lebih kuat kepada istri yang baru menjadi Katolik, supaya pada gilirannya, istri yang bertanggung jawab untuk menyegarkan lagi keyakinan iman suaminya yang mulai layu itu.

Santo Paulus mengalami pernyataan diri Yesus Kristus yang akhirnya membuat ia bertobat dan berubah menjadi seorang Rasul. Pernyataan Yesus diyakininya sebagai kehadiran Tuhan Allah sesungguhnya sebagai pribadi, dan tidak ada kekuatan lain yang dapat menggantikannya. Injil yang disampaikan kepada segala bangsa adalah Injil Yesus Kristus, dan tidak ada jenis Injil yang lain dari itu. Jemaat di Galatia diyakinkan Paulus tentang prinsip pernyataan diri Kristus, supaya mereka tetap berpegang teguh pada Kristus yang telah diimaninya.

Injil adalah ungkapan sebuah kehadiran nyata sebagai pribadi yang melayani dan berkorban bagi sesamanya. Tuhan Yesus menggambarkan diri-Nya di dalam Injil sebagai hamba yang melayani dan berkorban bagi sesama-Nya, yaitu setiap orang yang Bapa percayakan kepada-Nya. Ia mengajarkan itu sebagai suatu pernyataan diri yang tertinggi, yaitu menderita dan mati bagi keselamatan kita. Ia mengajarkan cara pernyataan diri itu melalui kisah orang Samaria yang baik hati, dan kita dituntunnya untuk berbuat yang sama. Bahkan kepada orang-orang yang berbeda dan melawan kita, Yesus mengajarkan kita untuk berbuat sebagai sesama bagi mereka.

“Ya, Tuhan, ajarkanlah dan semangatilah kami untuk mengasihi sesama dengan tulus hati. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)